Rupiah Menguat ke Rp17.708, Sentimen Positif dari Kesepakatan Iran dan AS
Penguatan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan positif terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tajam pada perdagangan sore hari ini. Penguatan mata uang rupiah didorong oleh membaiknya sentimen global setelah muncul kabar mengenai kesepakatan awal perdamaian antara AS dan Iran yang berpotensi mengurangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditutup menguat 151 poin ke level Rp 17.708 per USD Sebelumnya, rupiah bahkan sempat menguat hingga 185 poin dalam perdagangan intraday.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat tajam 151 point sebelumnya sempat menguat 185 point dilevel Rp 17.708 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.860," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Disambut Positif
Menurut Ibrahim, penguatan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan positif terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump serta Wakil Menteri Luar Negeri Iran disebut telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan kembali membuka jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Kabar tersebut disambut positif oleh pelaku pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Terbukanya kembali akses pelayaran di kawasan tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
Selain itu, Perdana Menteri Pakistan yang berperan sebagai mediator mengungkapkan bahwa AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat mendatang.
Pembukaan Selat Hormuz
Adapun Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Selat Hormuz akan dibuka "bebas biaya" dan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran juga akan berakhir.
Ibrahim menyampaikan, berdasarkan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, mengatakan draf kesepakatan tersebut menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran.
Dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak perang menutup Selat Hormuz, titik penting bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, selama lebih dari tiga bulan.
Investor Mencermati Pembukaan Selat Hormuz
Di sisi lain, kata Ibrahim, investor juga mengamati dengan hati-hati seberapa cepat produsen Timur Tengah dapat melanjutkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang dan apakah lebih banyak kapal akan memasuki wilayah tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan kesepakatan yang lebih luas akan dinegosiasikan selama periode gencatan senjata 60 hari.
Negara-negara E4, yang meliputi Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, mengatakan pada hari Minggu bahwa negara-negara tersebut siap untuk mencabut sanksi terhadap Iran sebagai tanggapan atas langkah-langkah terkait program nuklirnya.
Selain itu, pada Minggu ini, perhatian pasar akan tertuju pada pengumuman kebijakan terbaru dari beberapa Bank Sentral dengan fokus utama keputusan kebijakan moneter The Fed, yang pertama dipimpin oleh Ketua barunya Kevin Warsh.
"Bank sentral seperti Reserve Bank of Australia (RBA) dan European Central Bank (ECB) telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 75 dan 25 basis poin selama tahun ini. Namun, penyelesaian konflik yang cepat mungkin mencegah bank sentral lain, seperti Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank of England (BoE), dan Federal Reserve (Fed), untuk memperketat kebijakan," pungkasnya.