Purbaya Optimistis Rupiah Menguat pada Semester II 2026
Purbaya mengungkapkan cadangan devisa Indonesia hingga Mei 2026 mencapai US$144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Pemerintah pun optimistis nilai tukar rupiah akan menguat secara bertahap pada semester II 2026 seiring membaiknya kepercayaan investor dan penguatan koordinasi kebijakan ekonomi.
Purbaya mengungkapkan cadangan devisa Indonesia hingga Mei 2026 mencapai US$144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor. Angka tersebut jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada pada level tiga bulan impor.
Selain itu, sektor manufaktur menunjukkan perbaikan pada Mei 2026 setelah sempat mengalami tekanan pada April. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Memasuki triwulan kedua, dinamika ekonomi domestik terus menunjukkan tren yang membaik. Konsumen masih optimistis untuk terus melakukan konsumsi,” ujar Purbaya dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (10/6/2026).
Pemerintah Masih Mencermati Tekanan terhadap Rupiah
Optimisme tersebut, lanjut dia, tercermin dari peningkatan aktivitas belanja masyarakat, indeks keyakinan konsumen, serta kenaikan penjualan mobil, sepeda motor, konsumsi listrik, dan semen.
Meski demikian, pemerintah masih mencermati tekanan terhadap rupiah yang dipengaruhi sentimen global, kondisi risk-off di pasar keuangan, serta tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik.
Namun, pemerintah meyakini penguatan sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, ditambah perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor (DHE) dan pendalaman pasar keuangan, akan meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri.
“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026,” kata Purbaya.
Di sisi lain, arus modal asing mulai menunjukkan perbaikan pada triwulan II 2026, terutama pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Walaupun pasar saham masih mengalami arus keluar modal, minat investor terhadap instrumen keuangan domestik dinilai tetap terjaga.
Reporter: Immanuel Christian