Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rp18.200 per Dolar AS Pagi Ini
Nilai tukar rupiah mencapai Rp 18.200 per dolar AS pada Selasa pagi. Para analis memprediksi bahwa pelemahan ini akan berlanjut hingga mencapai Rp 19.000.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah mencapai Rp 18.200 pada pagi hari Selasa, 9 Juni 2026. Menurut analisis, ada kemungkinan rupiah akan melemah lebih jauh hingga mencapai Rp 19.000 per dolar AS.
Berdasarkan data dari Google Finance, pada pukul 07.05 WIB, nilai rupiah tercatat di angka Rp 18.025 per dolar AS.
Namun, tak lama setelah itu, pada pukul 07.10 WIB, rupiah kembali mengalami penurunan dan berada di angka Rp 18.229 per dolar AS.
Sepanjang tahun ini, rupiah memang mengalami tekanan yang signifikan, dengan penurunan hampir 10 persen, sedangkan di awal tahun nilai rupiah masih berada di kisaran Rp 16.683 per dolar AS.
Pengamat di bidang Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah akan terus berlanjut dan dapat mencapai Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan Juni 2026.
"Ada kemungkinan besar rupiah kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp 19.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai," ungkap Ibrahim pada hari Senin, (8/6/2026).
Tekanan yang dihadapi rupiah saat ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, yang membuat para investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan penguatan dolar AS adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Faktor-faktor yang berasal dari luar organisasi atau individu dapat memengaruhi kinerja dan keputusan yang diambil
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz telah menimbulkan kekhawatiran di pasar global mengenai stabilitas pasokan energi dunia.
Ketegangan ini semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, termasuk di Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Di sisi lain, ketegangan yang terjadi antara Israel dan Hamas serta situasi di Lebanon Selatan juga menambah ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut.
Semua kondisi ini membuat investor global beralih mencari aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.
"Itu membuat dolar menguat, kemudian harga minyak juga naik," imbuhnya.
Selain faktor-faktor geopolitik, pasar juga bereaksi terhadap prospek kebijakan moneter yang diterapkan oleh AS.
Data ketenagakerjaan yang menunjukkan hasil lebih baik dari yang diperkirakan membuat peluang untuk pemangkasan suku bunga semakin kecil.
Ibrahim berpendapat bahwa di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, Bank Sentral AS berpotensi untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat yang tinggi lebih lama dan masih membuka kemungkinan untuk melakukan kenaikan suku bunga pada kuartal IV tahun ini.
Faktor Domestik
Kenaikan harga minyak dunia dari dalam negeri dianggap sebagai salah satu faktor utama yang memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.
Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor energi, yang pada gilirannya memperburuk neraca berjalan.
Menurut Ibrahim, situasi ini bisa memperlebar defisit anggaran pemerintah yang diperkirakan akan mendekati batas 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, inflasi yang terus meningkat, penyempitan surplus neraca perdagangan, serta perubahan pandangan terhadap utang Indonesia oleh Moody's menjadi faktor tambahan yang menambah beban di pasar.
"Kemudian neraca perdagangan surplus tapi juga menyempit. Apalagi dibarengi dengan diturunkan Moody's menurunkan peringkat utang dan antara menjadi negatif, ini pun juga membuat ketegangan tersendiri," pungkasnya.
Dengan kondisi ini, tantangan bagi perekonomian Indonesia semakin kompleks, karena berbagai faktor eksternal dan internal saling mempengaruhi. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak negatif dari situasi ini agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.