Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen, merupakan langkah yang tepat.
"Menurut saya, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate hari ini merupakan langkah yang tepat karena rupiah sudah melemah lebih dalam dari perkiraan, tekanan global masih tinggi, dan pasar membutuhkan sinyal bahwa BI tidak membiarkan pelemahan rupiah bergerak tanpa respons kebijakan," kata Josua kepada Media, Selasa (9/6).
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen memperkuat daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal asing, serta mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa yang selama ini digunakan untuk stabilisasi rupiah.
Namun, kenaikan suku bunga saja tidak otomatis membuat rupiah kembali kuat. Pelemahan rupiah saat ini bukan hanya akibat selisih imbal hasil dengan aset dolar AS, tetapi juga karena kombinasi tekanan global dan kekhawatiran domestik.
Dari sisi global, konflik Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, serta kecenderungan investor mencari aset yang lebih aman masih menekan mata uang negara berkembang.
Sementara dari sisi domestik, pasar masih mencermati kredibilitas fiskal, arah kebijakan pemerintah, arus keluar dari pasar saham, serta kepastian regulasi.
"Oleh karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah," ujarnya.
Advertisement
Efektivitas Kenaikan Suku Bunga BI
Josua menjelaskan, efektivitas langkah ini akan bergantung pada tiga hal. Pertama, apakah kenaikan suku bunga benar-benar mampu menarik kembali dana asing ke SBN dan SRBI.
Kedua, apakah koordinasi BI dan pemerintah mampu menjaga likuiditas pasar uang dan perbankan agar pengetatan suku bunga tidak mengganggu pembiayaan ekonomi. Ketiga, apakah pemerintah mampu memperbaiki kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal, komunikasi kebijakan yang jelas, dan konsistensi dalam menjaga iklim investasi.
"Jika tiga hal ini berjalan, rupiah berpeluang lebih stabil. Jika tidak, kenaikan suku bunga hanya akan membeli waktu dengan biaya yang semakin mahal," ujarnya.
Advertisement
Dampak Kenaikan BI Rate
Di samping itu, kata Josua risiko kenaikan BI Rate dapat mendorong kenaikan biaya dana perbankan, menahan penurunan bunga kredit, dan memperberat dunia usaha yang sudah menghadapi tekanan biaya akibat pelemahan rupiah dan harga energi. Oleh karena itu, BI perlu menjaga keseimbangan.
Di satu sisi, BI harus cukup tegas menjaga rupiah agar tekanan tidak merembet ke inflasi dan kepercayaan investor. Di sisi lain, BI tidak boleh membuat likuiditas terlalu ketat sehingga kredit produktif melemah dan pertumbuhan ekonomi ikut tertahan. Penguatan fasilitas likuiditas perbankan menjadi penting agar stabilisasi rupiah tidak berubah menjadi tekanan pembiayaan di sektor riil.
"Jadi, kenaikan BI Rate hari ini adalah langkah yang perlu dan tepat. BI sedang mengirim pesan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas. Namun, agar efektif, langkah moneter ini harus didukung oleh kebijakan fiskal yang kredibel, pengelolaan utang yang hati-hati, kepastian regulasi, serta komunikasi pemerintah yang lebih meyakinkan," ujarnya.
Menurutnya, rupiah tidak hanya membutuhkan suku bunga yang menarik, tetapi juga kepercayaan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia tetap konsisten, hati-hati, dan ramah terhadap investasi.