Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi kembali melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.979 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per USD.
Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede menyatakan kenaikan harga minyak mentah memberikan tekanan terhadap kurs rupiah.
"Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus USD 95 per barel, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah," ungkapnya dikutip dari Antara, Jumat (24/7).
Lonjakan harga minyak tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit (defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan secara bersamaan) Indonesia, yang pada akhirnya melemahkan sentimen investor terhadap mata uang domestik.
Kenaikan harga minyak tersebut ditenggarai akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah terjadi serangan di dekat Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Gangguan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran bahwa kapal tanker minyak harus mengalihkan rute pelayaran melalui Afrika bagian selatan, yang berpotensi semakin mengganggu arus perdagangan global dan rantai pasok energi.
Adanya peningkatan ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global, sehingga mendorong permintaan terhadap dolar AS.
"Untuk hari ini, kami memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.025 per USD, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang masih menopang permintaan terhadap aset-aset safe haven," ujar Josua.
Advertisement
Ketegangan Timur Tengah Meningkat
Mengutip Anadolu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan meminta pertanggungjawaban Teheran jika kelompok Houthi Yaman menyerang kapal-kapal komersial.
Pernyataan Trump muncul setelah kelompok Houthi Yaman mengatakan pada Kamis (23/7) bahwa mereka melakukan operasi militer yang menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi dengan rudal balistik dan rudal jelajah, serta drone.
Menteri Luar Negeri AS Rubio mengatakan Houthi harus "menjauh" dari konflik Iran, mengklaim bahwa mereka "terjebak" dalam perang di Timur Tengah oleh Teheran.
Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah militer Iran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan fasilitas energi di seluruh wilayah jika serangan AS terhadap infrastruktur Iran terus berlanjut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyampaikan pa mereka telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania, dan sebuah kapal tanker minyak terkena ledakan ranjau di Selat Hormuz, yang menyebabkan dua kapal lain meninggalkan jalur pelayaran selatan.
Perkembangan ini menambah kekhawatiran tentang keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, yang dilalui oleh sekitar seperlima konsumsi minyak global.