Warga Pesisir Banten dan Lampung Diimbau Waspadai Hoaks Tsunami

BNPB mengingatkan warga Banten dan Lampung mewaspadai hoaks tsunami imbas erupsi Anak Krakatau.

Devira Prastiwi
Oleh Devira Prastiwi - Reporter
Warga Pesisir Banten dan Lampung Diimbau Waspadai Hoaks Tsunami
Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan (Antara)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung untuk mewaspadai hoaks tsunami yang muncul di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, meminta warga tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang sumbernya tidak jelas.

"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diharapkan untuk tetap tenang, jangan percaya isu-isu yang tidak benar, tidak terverifikasi tentang erupsi gunung api yang akan menyebabkan tsunami atau hal-hal yang lain," tutur Berton dalam konferensi pers secara daring bersama TNI, Selasa (8/9/2026).

Ia juga menekankan agar publik hanya merujuk pada informasi resmi dari otoritas kebencanaan daerah dan instansi pemerintah terkait.

"Kami mengimbau untuk tetap mengikuti arahan BPBD maupun instansi terkait," ucap Berton.

Video Pria Kanada Soal Ramalan Gempa

Sebelumnya, beredar video seorang pria asal Kanada yang menyebut Indonesia akan dilanda gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7 hingga 9.

Dalam tayangan itu, Frankie MacDonald bahkan menyebut kekuatan gempa menurut prediksinya dapat mencapai M 9.

Frankie dikenal sebagai sosok meteorologi dan kebencanaan dari Kanada, meski sebenarnya ia tidak memiliki latar belakang keilmuan di bidang tersebut. Meski begitu, klaim tersebut sempat menyita perhatian di tengah kewaspadaan terhadap aktivitas kegempaan di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan.

"Wilayah Indonesia terletak di daerah yang rawan gempa. Sudah berkali-kali juga kita sosialisasikan, ada ancaman dari sumber megathrust dan sesar aktif. Namun kapan dan di mana secara pasti tidak bisa dipastikan," ujar Wijayanto kepada Liputan6.com, Selasa (8/9/2026).

Menurut dia, teknologi saat ini belum mencapai tahap untuk memprediksi waktu dan lokasi gempa secara akurat.

"Ramalan itu kebetulan saja. Secara rata-rata di Indonesia terjadi dua kali gempa per tahun dengan magnitudo kurang dari tujuh," katanya.

Ia menambahkan data terbaru kejadian gempa besar di Indonesia pada tahun berjalan.

"Bahkan, menurut data BMKG, sepanjang tahun 2026 hingga bulan Agustus ini, Indonesia sudah mencatat dua kali kejadian gempa dengan kekuatan di atas Magnitudo 7, yakni di wilayah Flores dan Maluku Utara," sambung Wijayanto.

Imbau Warga Tetap Tenang

Wijayanto mengimbau masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial, khususnya yang belum terverifikasi.

"Masyarakat Indonesia diimbau agar tetap tenang dan waspada serta tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, khususnya yang beredar melalui media sosial," tutur Wijayanto.

Ia mendorong publik memprioritaskan langkah mitigasi kebencanaan ketimbang mempercayai ramalan.

"Langkah mitigasi yang dapat dilakukan seperti pengetahuan cara selamat, langkah evakuasi, perkuatan bangunan, penguatan rambu evakuasi, dan lain-lain," imbuhnya.

Rekomendasi