Sembilan entitas yang berbasis di Singapura dan London, Inggris, yang dikaitkan dengan keluarga Hartono, diperkirakan telah menanamkan dana sekitar US$ 1,4 miliar atau Rp 24,68 triliun (asumsi kurs Rp 17.630 per dolar AS) untuk investasi di luar negeri.
Mengutip the Edge Malaysia, Selasa (8/9/2026), temuan tersebut terungkap melalui dokumen resmi serta wawancara Bloomberg News dengan pihak-pihak yang dekat dengan grup bisnis terkait.
Pergerakan dimulai pada akhir 2023 ketika Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd mengucurkan US$ 669 juta atau Rp 11,79 triliun untuk mengakuisisi bisnis kertas khusus di Amerika Serikat. Setahun kemudian, Evergreen membayar 360 juta euro atau Rp 7,36 triliun guna membeli perusahaan produsen kertas rokok asal Austria.
Rangkaian kesepakatan ini disebut menandai perubahan arah bagi keluarga miliarder dengan kekayaan sekitar US$ 30 miliar atau Rp 528,69 triliun.
Nama keluarga Hartono tidak dicantumkan dalam transaksi akuisisi tersebut. Dokumen resmi dan siaran pers menyebut Evergreen Hill sebagai pembeli, serta hanya mendeskripsikannya sebagai bagian dari grup swasta sukses yang berbasis di Indonesia, tanpa menyinggung keluarga Hartono maupun perusahaan induk utama.
Namun, dokumen resmi di Singapura dan Indonesia menunjukkan pemilik tunggal Evergreen adalah PT Eragraha Pirantimegah, yang seluruh sahamnya dimiliki oleh keluarga Hartono.
Pihak keluarga menolak memberikan komentar. Di sisi lain, grup terkait telah melakukan investasi di luar negeri, termasuk pada perusahaan perangkat lunak layanan keuangan di Singapura, dan sedang mempertimbangkan kesepakatan lebih lanjut.
Keluarga Hartono juga diketahui melakukan diversifikasi usaha, mulai dari perakitan kendaraan listrik, perkebunan kelapa sawit, hingga belanja daring.
Sejumlah pengusaha Indonesia lain juga aktif berinvestasi lintas negara. Perusahaan milik Alexander Ramlie menyepakati pembelian tambang batu bara di Australia sekitar US$ 3,9 miliar atau Rp 68,72 triliun pada Mei 2026. Selain itu, perusahaan yang dikendalikan Prajogo Pangestu mengajukan penawaran sekitar US$ 5 miliar atau Rp 88,11 triliun untuk mengakuisisi perusahaan panas bumi di Filipina.