10 Orang Paling Kaya di Singapura, dari Pendiri Facebook hingga Raja Properti

Singapura menjadi rumah bagi sederet taipan dengan kekayaan fantastis. Berikut 10 orang terkaya di Singapura versi Forbes 2026 dari berbagai sektor bisnis.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
10 Orang Paling Kaya di Singapura, dari Pendiri Facebook hingga Raja Properti
Patung Merlion di Singapura. (dok. Unsplash/Alicja Ziajowska)

Singapura kembali membuktikan posisinya sebagai kiblat kapital dan episentrum bisnis paling magnetis di Asia. Kombinasi stabilitas hukum, regulasi pro-bisnis yang ramah investor, serta kepastian iklim investasi menjadikan Negeri Singa ini rumah bagi para taipan lintas industri, mulai dari pelopor revolusi teknologi, penguasa real estate, hingga dinasti perbankan legendaris.

Berdasarkan data Forbes 2026, akumulasi kekayaan para konglomerat di Singapura terus mengukuhkan dominasi mereka di panggung global.

Berikut adalah 10 taipan terkaya di Singapura tahun 2026 yang mengontrol roda perekonomian regional versi Forbes:

Eduardo Saverin

[Bintang] 5 Pebisnis Terkaya di Singapura, Salah Satunya Orang Indonesia
Eduardo Saverin (Brasil) | via: guim.co.uk

Eduardo Saverin adalah pengusaha dan investor teknologi asal Brasil yang dikenal luas sebagai salah satu pendiri Facebook (kini Meta Platforms) bersama Mark Zuckerberg pada 2004. Lulusan Harvard University yang juga sempat aktif sebagai pemain catur kompetitif ini memegang sebagian besar kekayaannya dari saham Meta.

Dengan total kekayaan mencapai sekitar USD 32,9 milia, ia menempati posisi sebagai orang terkaya di Singapura secara stabil sejak 2023 setelah melepaskan kewarganegaraan Amerika Serikat menjelang IPO Facebook pada 2012.

Kini, Saverin berdomisili di Singapura dan berfokus penuh sebagai venture capitalist. Pada 2015, ia bersama Raj Ganguly mendirikan B Capital, perusahaan modal ventura yang mengelola aset lebih dari 12 miliar USD. Lewat B Capital, Saverin terus aktif mendukung ekosistem teknologi global, termasuk berhasil menghimpun dana baru sebesar USD 500 juta pada Juli 2026 yang dikhususkan untuk investasi pada perusahaan startup yang masih merintis.

Kwek Leng Beng & family

Kwek Leng Beng merupakan pengusaha dan taipan properti asal Singapura yang dikenal luas sebagai Executive Chairman Hong Leong Group, konglomerasi yang didirikan sang ayah sejak 1941, serta menjabat Executive Chairman City Developments Limited (CDL).

Bisnis keluarganya bermula dari toko perdagangan umum yang didirikan ayahnya asal Fujian, China dengan menjual berbagai kebutuhan, seperti tali, cat, serta perlengkapan untuk perkebunan karet, sebelum berkembang menjadi salah satu pengembang properti terbesar di Singapura. Dengan total kekayaan keluarga mencapai sekitar USD 16,1 miliar, ia telah 11 kali masuk dalam daftar Forbes 50 Richest Singaporeans sejak tahun 2017.

Di bawah kepemimpinannya, CDL aktif memperluas portofolio di bidang perhotelan global, termasuk langkah terobosannya pada 1995 saat membeli Plaza Hotel di New York dari Donald Trump bersama Prince Alwaleed Bin Talal Alsaud. Ekspansi tersebut berlanjut lewat pembukaan The Singapore EDITION pada 2023 hingga akuisisi Hilton Paris Opera Hotel senilai USD 260 juta pada 2024.

Saat ini, kepemimpinan bisnis keluarga terus berlanjut ke generasi berikutnya lewat putranya, Sherman Kwek, yang menjabat sebagai Group CEO CDL sejak 2018, sementara sepupunya, Quek Leng Chan, mengelola grup bisnis Hong Leong secara terpisah di Malaysia.

Robert & Philip Ng

Robert dan Philip Ng merupakan kakak beradik pengusaha properti asal Singapura yang mengendalikan Far East Organization, salah satu pengembang swasta terbesar di Singapura. Grup bisnis ini didirikan oleh ayah mereka, Ng Teng Fong, seorang pendatang asal China pada 1934 yang dijuluki “The King of Orchard Road” setelah memberanikan diri keluar dari bisnis toko kelontong keluarga untuk terjun ke sektor real estate pada 1960.

Memiliki total kekayaan sekitar USD 14,3 miliar, duo miliarder ini membagi fokus operasionalnya, di mana Philip mengelola bisnis di Singapura dan Robert mengawasi Sino Group di Hong Kong bersama putranya, Daryl.

Di bawah kepemimpinan mereka, grup bisnis keluarga ini terus memperluas portofolio properti dan perhotelan mewah ke tingkat internasional. Langkah ekspansi global tersebut mencakup pembukaan Fullerton Hotel Sydney berisi 416 kamar pada 2019 yang menempati bangunan bersejarah bekas kantor pos umum, hingga pengubahan bekas Westminster Fire Station di Inggris oleh Far East Orchard menjadi kompleks hunian mewah yang mulai dipasarkan pada 2022.

Lee family

Keluarga Lee merupakan salah satu dinasti finansial terkaya di Singapura dengan total kekayaan sekitar USD 13,8 miliar yang bersumber utama dari kepemilikan saham di OCBC Bank, bank terbesar kedua di Singapura.

Fondasi kekuatan bisnis dan filantropi keluarga ini dibangun oleh generasi terdahulu, yakni mendiang Lee Seng Wee yang lama menjabat sebagai Chairman OCBC hingga wafat pada 2015, serta saudaranya, mendiang Lee Seng Gee, yang memimpin badan amal keluarga, Lee Foundation.

Kini, warisan bisnis tersebut berlanjut ke generasi berikutnya di bawah Lee Tih Shih, putra Lee Seng Wee, yang duduk di jajaran dewan direksi OCBC. Di bawah kepemimpinan strategis generasi penerus, OCBC terus memperkuat posisinya sebagai raksasa perbankan regional, yang ditandai dengan keberhasilan akuisisi unit bisnis Commonwealth Bank of Australia di Indonesia senilai USD 142 juta pada 2024.

Goh family

Keluarga Goh menempati urutan ke 5 sebagai salah satu dinasti bisnis terkaya di Singapura dengan total kekayaan mencapai sekitar USD 13,5 miliar yang bersumber utama dari kepemilikan mayoritas saham di Nippon Paint Holdings, raksasa produsen cat terbesar keempat di dunia.

Empirium bisnis ini dibangun oleh mendiang Goh Cheng Liang, pendiri Wuthelam Group yang mengawali usahanya dari pabrik cat kecil sebelum akhirnya bermitra dengan Nippon Paint pada 1962. Selain mendominasi industri cat dan memiliki gaya hidup mewah lewat koleksi yacht serta catamaran.

Kiprah bisnis tersebut kemudian diteruskan oleh putranya, Goh Hup Jin, yang kini menjabat sebagai Chairman Nippon Paint dan berhasil mengamankan kepemilikan saham mayoritas lewat transaksi saham dan tunai senilai USD 12 miliar pada 2021.

Di bawah kepemimpinannya, Nippon Paint terus memperluas jangkauan globalnya, termasuk melakukan langkah strategis dengan melakukan akuisisi atas produsen bahan kimia asal Amerika Serikat, AOC, dari Lone Star Funds senilai USD 2,3 miliar pada 2024.

Wee family

Keluarga Wee adalah salah satu dinasti konglomerat tertua di Singapura dengan total kekayaan berkisar USD 12 miliar. Gurita bisnis mereka berakar dari United Overseas Bank (UOB) yang didirikan Wee Khiang Cheng pada 1935, yang kemudian dibesarkan oleh mendiang Wee Cho Yaw.

Portofolio keluarga ini tak hanya mendominasi sektor perbankan, tetapi juga merambah ke pengembang properti UOL Group hingga produsen racikan obat legendaris Tiger Balm, Haw Par Corporation.

Kini, kepemimpinan UOB diteruskan oleh generasi kedua melalui Wee Ee Cheong selaku CEO, yang sukses memimpin ekspansi regional lewat akuisisi aset Citibank di empat negara Asia Tenggara senilai USD 3,6 miliar.

Sementara itu, generasi ketiga mulai menancapkan cakar mereka di industri lifestyle melalui Lo & Behold Group yang mengelola jaringan restoran mewah dan hotel boutique. Komitmen sosial keluarga ini juga tetap terjaga melalui donasi sebesar USD 110 juta kepada Nanyang Technological University (NTU) Singapore pada 2025

Khoo family

Keluarga Khoo merupakan pewaris dinasti finansial legendaris Singapura dengan total kekayaan USD 11 miliar. Kekayaan ini berakar dari kiprah mendiang Khoo Teck Puat, tokoh perbankan Asia pendiri Maybank (1960) sekaligus investor awal Standard Chartered Bank (1986).

Pundi-pundi kekayaan keluarga ini melesat drastis setelah mereka melepas seluruh kepemilikan saham di Standard Chartered senilai USD 4 miliar pada 2006. Selain di industri keuangan, keluarga ini memegang kendali atas Goodwood Group of Hotels, yang kini dipimpin oleh Mavis Khoo-Oei sebagai Chairman.

Lewat Khoo Foundation, keluarga ini juga aktif menyalurkan kontribusi sosial dan filantropi secara berkelanjutan. Jejak peninggalan paling monumental dari yayasan keluarga tersebut adalah pendanaan pembangunan Khoo Teck Puat Hospital, yang resmi beroperasi sejak 2010.

Li Xiting

Li Xiting merupakan pengusaha teknologi medis asal Singapura dengan total kekayaan berkisar USD 10 miliar. Lulusan University of Science and Technology of China ini mendirikan Shenzhen Mindray Bio-Medical Electronics pada 1991 bersama rekannya yang juga sesama miliarder, Xu Hang.

Menjabat sebagai Chairman, Li memimpin Mindray menjadi raksasa pemasok perangkat medis global yang berbasis di Shenzhen, sembari membagi fokus dan aktivitas harian antara Singapura dan China.

Di bawah kepemimpinannya, Mindray gencar melakukan manuver bisnis untuk memperkuat dominasi di industri kesehatan internasional. Langkah ekspansi strategis tersebut terlihat jelas pada 2024, saat Mindray mengucurkan dana lebih dari USD 900 juta untuk mencaplok 21 persen saham APT Medical, produsen peralatan kardiologi terkemuka asal Shenzhen.

Leo KoGuan

Leo KoGuan merupakan pengusaha teknologi kelahiran Indonesia dengan total kekayaan mencapai sekitar USD 8,2 miliar. Ia merupakan pendiri sekaligus Chairman SHI International, perusahaan penyedia layanan dan solusi teknologi informasi dengan penjualan bruto sekitar USD 15 miliar.

Perusahaan tersebut kini dipimpin sebagai CEO oleh mantan istrinya, Thai Lee, yang juga merupakan seorang miliarder. Investasi pertama Lee disebut berasal dari sektor properti di Manhattan. Setelah menjual aset tersebut, ia menggunakan hasilnya untuk membeli perusahaan reseller software yang menjadi cikal bakal SHI pada 1989 dengan harga kurang dari 1 juta USD.

Nama KoGuan juga mencuri perhatian publik sebagai salah satu investor ritel terbesar di Tesla. Walau sempat mengklaim posisi sebagai pemegang saham individu terbesar ketiga, ia mengubah strategi investasinya pada 2024 setelah mengkritik Elon Musk dan beralih berinvestasi pada Treasury Bills AS.

Di luar sektor teknologi, ia mencatatkan jejak filantropi lewat donasi 30 juta USD ke Shanghai Jiao Tong University pada 2008, serta memperluas aset real estatnya dengan membeli hotel butik di Singapura senilai USD 75 juta pada 2025.

Forrest Li

Forrest Li merupakan pengusaha teknologi asal Singapura dengan total kekayaan berkisar USD 7,2 miliar. Mengawali kariernya sebagai recruiter Motorola di Shanghai sebelum menempuh pendidikan di Stanford University, pria bernama asli Xiaodong ini meluncurkan Sea Limited sebagai wadah bisnis game online, e-commerce, pembayaran digital, hingga layanan keuangan.

Pundi-pundi kekayaannya melonjak drastis pasca-IPO Sea di New York Stock Exchange pada 2017, melontarkan namanya ke jajaran papan atas orang terkaya di Singapura.

Keberhasilan Sea tak lepas dari dukungan deretan investor raksasa dunia, mulai dari Tencent, General Atlantic, sovereign wealth fund Norwegia, hingga Kuok Khoon Hua. Setelah bertahun-tahun berfokus pada ekspansi masif, Li membawa perusahaan mencapai tonggak sejarah baru pada 2023 dengan membukukan laba bersih tahunan untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa saham.

Rekomendasi