Ekonom Proyeksi Rupiah Menguat di Paruh Kedua 2024, Ini Pemicunya
Ekonom memproyeksikan Rupiah Menguat mulai Agustus hingga akhir tahun 2024, didukung kondisi global yang kondusif dan fundamental ekonomi domestik yang kuat, menawarkan prospek menarik bagi pasar keuangan.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan memasuki fase penguatan signifikan pada paruh kedua tahun 2024, khususnya mulai Agustus hingga akhir tahun. Proyeksi ini muncul jika tekanan global mereda dan kondisi ekonomi domestik berjalan sesuai dengan rencana pemerintah, menurut Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto.
Penguatan rupiah ini berpotensi membawa nilai tukar mendekati asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di kisaran Rp16.500 per dolar AS pada akhir tahun. Hal ini sangat mungkin terjadi, terutama jika aliran investasi langsung (FDI) dan dana asing ke pasar keuangan meningkat seiring prospek ekonomi yang positif serta minimnya tekanan di pasar saham.
Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyoroti bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal. Ini bukan karena penurunan fundamental domestik yang kuat.
Kondisi Fundamental dan Potensi Penguatan Rupiah
Myrdal Gunarto mencatat bahwa rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued. Meskipun neraca dagang tetap surplus dan arus dana di pasar surat utang negara (SUN) masih mencatatkan net inflow, pasar saham justru mengalami outflow.
Secara fundamental, surplus eksternal ini seharusnya mampu mengimbangi arus keluar dana di pasar saham, sehingga rupiah masih memiliki ruang untuk menguat. Potensi penguatan ini diperkirakan akan terwujud pada akhir tahun, membawa optimisme bagi stabilitas mata uang domestik.
Jika pertumbuhan ekonomi terealisasi sesuai desain pemerintah, rupiah berpeluang besar untuk mencapai target penguatan tersebut. Peningkatan investasi dan kepercayaan pasar akan menjadi pendorong utama.
Tantangan Pasokan Dolar dan Permintaan Domestik
Meskipun likuiditas valuta asing (valas) dinilai memadai, Myrdal menyoroti adanya mismatch antara permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri. Realisasi pasokan disebut belum optimal, mengindikasikan adanya kendala dalam konversi dolar ke rupiah.
Salah satu dugaan adalah banyak eksportir, terutama dari sumber daya alam nonmigas, cenderung tidak all out untuk melakukan konversi dolar ke rupiah. Hal ini menjadi perkiraan karena dari sisi likuiditas valas, sebenarnya kondisinya positif.
Selain itu, permintaan valas domestik diperkirakan akan meningkat pada periode Maret hingga Juli. Peningkatan ini disebabkan oleh kebutuhan pembayaran dividen investor asing serta impor yang naik seiring pertumbuhan ekonomi. Jika pasokan dolar tetap tersendat, rupiah berpotensi bergerak dinamis pada April hingga Juli.
Faktor Eksternal Dominasi Pelemahan Rupiah
M Rizal Taufikurahman dari Indef menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal. Penguatan dolar AS akibat suku bunga global yang tinggi, arus modal ke aset aman, serta kenaikan premi risiko negara berkembang menjadi penyebab utama.
Inflasi domestik masih terkendali, pertumbuhan ekonomi bertahan di sekitar 5 persen, dan imbal hasil riil aset rupiah relatif menarik. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara valuasi, rupiah cenderung undervalued.
Menurut Rizal, peluang penguatan rupiah tetap ada, meskipun tidak instan. Secara realistis, nilai yang lebih mendekati fundamental berada di kisaran Rp15.200-15.800 per dolar AS. Level di atas kisaran ini lebih mencerminkan dominasi sentimen global dan overshooting siklus keuangan, bukan perubahan struktur ekonomi.
Kredibilitas Kebijakan dan Stabilitas Nilai Tukar
Koreksi rupiah sangat bergantung pada normalisasi eksternal, khususnya penurunan suku bunga global dan stabilisasi yield US Treasury. Kondisi ini akan membuka kembali arus modal ke Surat Berharga Negara (SBN), yang sangat penting bagi penguatan rupiah.
Dari sisi domestik, kredibilitas kebijakan fiskal, pengendalian inflasi oleh Bank Indonesia (BI), serta perbaikan transaksi berjalan melalui peningkatan ekspor bernilai tambah menjadi penentu utama. Langkah-langkah ini akan memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.
Bagi dunia usaha, rupiah yang melemah memang menguntungkan eksportir dan sektor komoditas. Namun, hal ini menaikkan biaya impor bahan baku, energi, dan kewajiban utang valas, sehingga menekan margin manufaktur. Isu utama bukan sekadar kuat-lemahnya kurs, melainkan stabilitas dan prediktabilitasnya, karena volatilitas tinggi meningkatkan biaya lindung nilai dan menunda keputusan investasi.
Sumber: AntaraNews