Kantor BGN Disegel Massa, Demonstran: Saat MBG Bermasalah yang Protes Justru Pengelola Dapur
Dalam orasinya, perwakilan Transparency International Indonesia, Agus Sarwono, menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi unjuk rasa yang digelar sejumlah elemen masyarakat di depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026), diwarnai aksi penyegelan simbolis gedung.
Dalam orasinya, perwakilan Transparency International Indonesia, Agus Sarwono, menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menilai pihak yang paling vokal ketika program tersebut terhenti bukanlah para pelajar sebagai penerima manfaat, melainkan pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan dapur program tersebut.
"Teman-teman tentu tahulah ya kemarin begitu ya ketika ada isu atau ada wacana untuk diminta stop oleh teman-teman masyarakat sipil, siapa yang paling protes? Pengelola dapur, bukan warga penerima manfaat. Anak-anak tuh nggak ada yang protes kalau dapur berhenti juga, nggak ada yang protes!," kata Agus saat dimeui awak media di lokasi.
Dihentikan Minimal 30 Hari
Agus pun menantang, jika dapur bisa dihentikan minimal 30 hari demi memperbaiki tata kelolanya, maka pihak yang paling keras bersuara adalah mereka para pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
"Penekanan kami tentu tegas begitu ya, setop moratorium dulu. Berhenti dulu, jeda sejenak, perbaiki tata kelolanya," tegas Agus.
Agus menyatakan, program MBG syarat konflik kepentingan. Bahkan dewan pakar sendiri yang bilang bahwa mereka pun punya dapur dengan bangganya.
"Ini menunjukkan apa? Normalisasi konflik kepentingan. Padahal salah satu risiko korupsi terbesar dalam program Makan Bergizi Gratis salah satunya adalah konflik kepentingan!," tegas dia.
BGN Dapat Membuka Seluruh Informasi Bisnis
Agus mendesak, BGN dapat membuka seluruh informasi bisnis proses penunjukan atau seleksi mitra BGN. Tujuannya, agar publik tahu bagaimana mekanisme pengelolaan dapur.
"Kami juga pengen atau setidaknya dapat informasi begitu ya siapa pemain sesungguhnya. Karena banyak betul kan mitra-mitra yayasan yang sesungguhnya terafiliasi dengan kelompok-kelompok kepentingan, partai politik, anggota DPR RI, anggota DPRD dan seterusnya," katanya.