Jusuf Kalla Beberkan Strategi Bangsa Hadapi Dampak Konflik Global: Perkuat Iptek & Wirausaha Muda
JK mengungkap karakter perang modern yang kini beralih kiblat. Dari perang konvensional berubah menjadi perang berbasis teknologi.
Wakil Presiden RI Ke-10 dan Ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) beberkan strategi sebuah bangsa menghadapi dampak konflik global yang berkepanjangan. Perkuat ilmu pengetahuan, teknologi dan riset serta memperbanyak wirausaha muda adalah kunci.
JK saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis Ke-23 FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Rabu (10/6) mengatakan dunia tengah menghadapi krisis akibat konflik geopolitik. Di sisi lain, karakter perang mengalami perubahan.
"Perang sekarang bukan lagi soal berapa banyak pasukan yang dimiliki, tetapi berapa banyak teknologi, roket, drone, dan kemampuan sains yang dimiliki suatu negara," kata dia, sebagaimana keterangan diterima di Jakarta.
JK mengungkap karakter perang modern yang kini beralih kiblat. Dari perang konvensional berubah menjadi perang berbasis teknologi. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan riset dan inovasi yang mampu memperkuat daya saing bangsa.
JK mencontohkan kemampuan Iran bertahan menghadapi tekanan karena didukung penguasaan teknologi dan riset serta keberhasilan Amerika Serikat (AS) mengembangkan teknologi melalui sinergi universitas dan industri, seperti yang terjadi di Silicon Valley.
Indonesia, kata dia, masih menghadapi sejumlah tantangan besar, mulai dari ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim, kebutuhan energi yang terus meningkat hingga persoalan produktivitas nasional.
Menurut dia, untuk mencapai target sebagai negara berpendapatan tinggi pada masa mendatang, Indonesia harus mampu meningkatkan pendapatan per kapita secara signifikan melalui peningkatan produktivitas dan inovasi.
"Negara maju selalu dibangun oleh universitas yang baik, riset yang baik, penelitian yang baik, dan pemanfaatan kecerdasan yang baik," ujarnya.
Ubah Pola Pikir
Selain itu, di depan mahasiswa, JK mendorong generasi muda mengubah pola pikir. Dari pencari kerja menjadi pola pikir pencipta lapangan pekerjaan. Ia menilai semangat kewirausahaan harus menjadi bagian penting dari pendidikan tinggi agar mampu melahirkan generasi yang mandiri dan produktif.
"Jangan hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi bagaimana memperkerjakan orang lain. Cara berpikir itu harus diubah jika kita ingin maju bersama," ucapnya.
Tetap Optimis
Ia lebih lanjut mengajak mahasiswa, akademisi, dan masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan global dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, teknologi, produktivitas serta semangat kewirausahaan.
"Anak-anak muda dan para ilmuwan dibutuhkan untuk mempraktikkan ilmunya dalam hal-hal nyata. Itulah harapan kita semua untuk membangun bangsa yang lebih maju," kata JK. Seperti dikutip Antara.