Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 15 Mei 2026 Sentuh 17.600 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai angka 17.600 pada pagi hari Jumat, 15 Mei 2026.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin tertekan. Pada hari Jumat, (15/5), rupiah mencapai posisi 17.600 per dolar AS. Analis memprediksi bahwa salah satu penyebab pelemahan rupiah adalah faktor geopolitik global.
Berdasarkan data dari Google Finance pada Jumat pagi, rupiah sempat menyentuh angka 17.612 per dolar AS, kemudian bergerak di kisaran 17.579. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini disinyalir masih dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global. Ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran di Timur Tengah terus memperkuat indeks dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti faktor-faktor yang menyebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dia memperkirakan bahwa rupiah akan menembus level Rp 17.550, setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp 17.517 pada pasar NDF, Kamis (14/5).
"Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dolar Amerika pada perdagangan hari ini, bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dolar terus mengalami penguatan," ungkap Ibrahim dalam pesan suara yang diterima Liputan6.com, Jumat (15/5).
Dia juga menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi adalah kondisi geopolitik global yang masih memanas, terutama terkait arus perdagangan melalui Selat Hormuz yang berdampak langsung pada ekonomi global.
"Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz," ucapnya.
Ibrahim menambahkan bahwa gangguan arus logistik di Selat Hormuz turut mengerek harga minyak dunia, sehingga indeks dolar pun mengalami kenaikan. "Kita tahu saat ini 20%, ya ingat 20% transportasi minyak itu terhenti total. Ini yang membuat harga minyak terus mengalami kenaikan, indeks dolar pun juga terus mengalami kenaikan," tuturnya.
Rupiah Diperkirakan Alami Fluktuasi
Sebelumnya, Sutopo Widodo, yang menjabat sebagai Presiden Komisaris HFX International Berjangka, memperkirakan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan tetap berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan untuk melemah ketika pasar dibuka kembali setelah libur panjang. Ia juga menambahkan bahwa Rupiah mungkin akan menguji kembali level psikologis 17.550, mengingat adanya tekanan eksternal yang masih cukup signifikan.
Menurut Sutopo, salah satu faktor utama yang memberikan beban pada pergerakan Rupiah adalah penguatan indeks dolar AS. Hal ini terjadi karena meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi global serta perubahan kepemimpinan di Federal Reserve, yang menyebabkan ekspektasi akan kebijakan moneter yang lebih ketat.
"Menjelang pembukaan pasar pasca long weekend, pergerakan Rupiah diproyeksikan masih akan tertahan dalam fase konsolidasi yang cenderung melemah (bearish bias), dengan risiko pengujian kembali ke level psikologis 17.550," ujar Sutopo kepada Liputan6.com, Jumat (15/5).
Tunggu Hasil Rapat BI
Sutopo mengemukakan bahwa selain faktor eksternal, libur panjang yang terjadi dapat menyebabkan pasar domestik menjadi tidak aktif, yang berpotensi memicu lonjakan volatilitas saat perdagangan dibuka kembali. Hal ini terjadi terutama di tengah arus modal global yang masih mencari aset safe-haven. Meskipun begitu, ia juga mencatat bahwa ada peluang untuk menahan tekanan terhadap Rupiah, yang dapat sedikit teredam oleh sikap pasar yang menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan depan.
Hasil rapat ini sangat dinantikan, terutama terkait dengan arah suku bunga acuan dan kebijakan stabilisasi pasar obligasi. "Dalam perspektif siklus pasar yang lebih luas, pergerakan pekan depan akan menjadi penentu apakah Rupiah mampu membentuk landasan support yang kuat di area saat ini, atau justru terkonfirmasi melanjutkan tren pelemahan jangka panjang akibat tekanan fundamental yang masih bersifat persisten," pungkasnya.
Sempat Menguat
Nilai tukar rupiah sebelumnya berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (13/5). Mata uang Garuda ini menguat ke level Rp17.476 per dolar AS dari posisi sebelumnya yang berada di Rp17.529 per dolar AS.
Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menilai bahwa penguatan rupiah ini dipicu oleh aksi ambil untung atau profit taking terhadap dolar AS, setelah mata uang Negeri Paman Sam tersebut sebelumnya mengalami penguatan yang cukup tajam.
"Penguatan rupiah terjadi seiring aksi ambil untung (profit taking) terhadap dolar AS setelah sebelumnya mengalami penguatan cukup tajam pasca rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar," ujar Amru, seperti yang dikutip dari Antara pada Rabu (13/5).