Kurs Rupiah Merosot ke Level Rp17.794 per USD, Pengamat Ungkap Biang Keroknya
Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal yang memburuk, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga lonjakan harga minyak.
Nilai tukar ataur kurs rupiah kembali berada di bawah tekanan dan melemah signifikan hingga menyentuh level Rp17.794 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Selasa (26/5).
"Dalam perdagangan siang ini rupiah ini sudah melemah 50 poin di Rp 17.794," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada media, Selasa (26/5).
Ia mengatakan pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal yang memburuk, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga lonjakan harga minyak dunia.
Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah kali ini cukup mengkhawatirkan, terutama karena bertepatan dengan momentum libur nasional yang berpotensi membatasi ruang gerak intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar domestik.
"Bahwa hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Kita melihat bahwa pelemahan mata uang rupiah di hari ini cukup signifikan. Pelemahannya begitu mengkhawatirkan, apalagi besok di libur nasional yang kemungkinan besar tekanan eksternal ini akan cukup tinggi," ujarnya.
Menurutnya, tekanan dari pasar global masih sangat kuat sehingga rupiah berisiko melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa hari ke depan.
"Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara sehingga hanya di pasar internasional ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujarnya.
Konflik Timur Tengah Dorong Penguatan USD
Ibrahim menjelaskan, faktor utama yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pasar sebelumnya menaruh harapan pada tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir yang dimediasi sejumlah negara.
Namun harapan tersebut memudar setelah muncul laporan mengenai serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran Selatan. Situasi itu kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia.
Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait pengelolaan uranium Iran dinilai semakin memperkeruh situasi. Di sisi lain, perpecahan internal di Iran antara kelompok yang menginginkan perdamaian dan kelompok garis keras juga menambah ketidakpastian politik.
"Ya kita lihat bahwa apa yang dikatakan oleh Trump yang berubah-ubah ini yang kemungkinan akan membuat tensi geopolitik di Timur Tengah akan memanas kembali. Lagi-lagi Amerika mengatakan bahwa uranium yang ada di Iran harus diambil alih oleh Amerika dan tidak mungkin ya Iran akan memberikan uranium tersebut," jelasnya.
Tidak hanya Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung turut memperburuk sentimen pasar global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan.
Harga Minyak Tembus USD 92 per Barel
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak mentah dunia juga terus mengalami kenaikan. Ibrahim menyebut harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) telah mencapai USD 92 per barel dan masih berpotensi melanjutkan penguatan.
Kenaikan harga minyak menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi domestik. Semakin tinggi harga minyak, semakin besar pula kebutuhan dolar AS yang harus disiapkan untuk membayar impor energi.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Terlebih lagi, asumsi dasar dalam APBN masih menggunakan harga minyak sekitar USD 70 per barel dan kurs rupiah di level Rp16.500 per dolar AS.
"Ini yang akan membuat kebutuhan dolar cukup tinggi karena APBN ya masih ditetapkan di USD 70, barrel ya kemudian rupiahnya di Rp16.500," pungkasnya.