Dolar Naik Bukan Faktor Global Saja, tapi Ada Momen Pembayaran Dividen Perusahaan dan Haji
Adanya lonjakan permintaan dolar seiring pembayaran dividen perusahaan dan kebutuhan valas untuk penyelenggaraan haji.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada kuartal kedua tahun ini, terjadi bukan hanya sentimen global semata.
Namun, didukung adanya kebutuhan valuta asing dalam negeri. Sebut saja adanya lonjakan permintaan dolar seiring pembayaran dividen perusahaan dan kebutuhan valas untuk penyelenggaraan haji.
“Memang di kuartal kedua ini, betul bahwa memang ada permintaan dolar yang meningkat, perusahaan-perusahaan leased companies jadwalnya yang bayar dividen, itu banyak sekali di bulan Mei ini. Jadi itu sangat wajar bahwa akan ada peningkatan permintaan dollar di kuartal kedua ini. Sama juga bertepatan juga dengan musim haji,” kata Josua dalam Media Briefing Bank Indonesia, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).
Pada kuartal kedua ini, lazim jika terjadi demikian, terutama pada bulan Mei dan Juni. Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar meningkat, terutama bagi perusahaan yang memiliki pemegang saham asing atau kewajiban pembayaran dalam mata uang asing.
Ia menilai tingginya permintaan dolar pada periode pembayaran dividen bukan disebabkan oleh arus modal keluar yang bersifat spekulatif, melainkan kebutuhan transaksi yang memang telah terjadwal.
Solusi
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, Josua mendorong penguatan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam aktivitas perdagangan dan transaksi lintas negara.
Menurutnya, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional dapat membantu menekan kebutuhan dolar sehingga gejolak nilai tukar rupiah menjadi lebih terkendali saat terjadi peningkatan permintaan valas.
Ia juga berharap Bank Indonesia terus memperluas kerja sama dengan bank sentral negara mitra guna meningkatkan pemanfaatan transaksi mata uang lokal di kawasan.
“Makanya memang kita juga perlu menggalakkan tadi namanya LCT, jadi saya juga menyuarakan juga LCT. Sekalipun memang juga harapannya itu juga kita mendorong Bank Indonesia menyuarakan ke peers central bank lain juga karena kita udah berkoar dari dalam, bank central yang lain mungkin kurang berkoar-koar ke stakeholder yang mereka,” pungkasnya.