Gubernur BI Akui Pelemahan Rupiah Terpengaruh Isu Pencalonan Deputi Gubernur
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut isu fiskal dan dinamika proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia turut menjadi perhatian investor.
Pelemahan nilai tukar Rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga sentimen domestik yang membentuk persepsi pelaku pasar.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut isu fiskal dan dinamika proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia turut menjadi perhatian investor.
"Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," kata Perry dalam Konferensi Pers RDG Januari 2026, Rabu (21/1).
Menurut Perry, persepsi pasar memiliki peran penting dalam pergerakan nilai tukar, khususnya di tengah kondisi global yang masih sarat ketidakpastian. Oleh karena itu, komunikasi kebijakan dan kejelasan tata kelola menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.
Meski demikian, Perry menegaskan tekanan terhadap Rupiah tetap didominasi faktor eksternal, sementara faktor domestik lebih berperan sebagai penguat sentimen yang sudah terbentuk di pasar keuangan.
Faktor Eksternal
Perry menjelaskan, bahwa perkembangan nilai tukar dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, tekanan terutama berasal dari dinamika geopolitik serta kebijakan tarif Amerika Serikat.
Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury baik tenor 2 tahun maupun 3 tahun turut memberikan tekanan, seiring dengan ekspektasi penurunan Fed Fund Rate yang kini dinilai semakin kecil.
Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memicu aliran modal keluar dari negara berkembang menuju negara maju, termasuk Amerika Serikat.
"Seperti tadi kami sampaikan pada tahun 2026 ini terjadi net outflow USD 1,6 miliar, data hingga 19 Januari 2026," ujarnya.
Upaya BI Jaga Rupiah
Perry menegaskan BI tidak ragu melakukan intervensi secara agresif di pasar valuta asing. Langkah stabilisasi dilakukan melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF) luar negeri, maupun DNDF di dalam negeri.
"Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF," ungkapnya.
Selain itu, Bank Indonesia akan jaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental ekonomi yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang merendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik.