Di Balik Tekanan Rupiah, Ekonom Ungkap Persoalan Lama yang Terpendam
Penurunan nilai rupiah terjadi bukan hanya disebabkan oleh faktor global, tetapi juga oleh masalah fiskal yang ada di dalam negeri.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak hanya disebabkan oleh tekanan global. Hal ini juga mencerminkan ketidakkuatan fundamental ekonomi domestik, terutama dalam aspek fiskal. Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, berpendapat bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang belum ditangani dengan baik. Dia menyatakan bahwa gejolak geopolitik global dan kenaikan harga minyak memang memberikan tekanan tambahan. Namun, masalah utama justru berasal dari dalam negeri.
"Dari sisi domestik, pengelolaan fiskal kita. Ini mendorong capital outflow karena investor melihat pasar keuangan Indonesia, termasuk SBN, jadi kurang menarik," ujarnya kepada Liputan6.com, Kamis (24/4/2026).
Huda menjelaskan bahwa menurunnya minat investor asing berdampak langsung pada permintaan rupiah yang melemah, sehingga nilai tukar rupiah terus terdepresiasi. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa pelebaran defisit anggaran dapat meningkatkan risiko fiskal.
"PR utama ada di fiskal. Pemerintah perlu segera memperbaiki," tegasnya. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam memperbaiki pengelolaan fiskal agar dapat menarik kembali minat investor. Dengan perbaikan yang tepat, diharapkan nilai tukar rupiah dapat stabil dan fundamental ekonomi domestik menjadi lebih kuat.
Mata Uang Lainnya juga Alami Gejolak
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan tanggapan mengenai nilai tukar rupiah yang telah mencapai angka 17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Ia menekankan bahwa rupiah bukanlah satu-satunya mata uang yang mengalami pelemahan. Meskipun demikian, pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan mata uang Garuda.
"Mata uang di regional juga bergejolak. Ya itu lihat gejolak global juga. Jadi ya kita monitor saja," ujar dia saat ditemui di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawasi kurs rupiah di tengah situasi yang tidak menentu saat ini. Hal ini dikarenakan nilai tukar rupiah telah melampaui asumsi dalam RAPBN 2026 yang sebesar Rp 16.500 per dolar AS. "Nanti kita monitor saja, karena ini enggak bisa kita setiap hari reaktif, dan itu BI yang tugasnya menjaga," kata Menko Airlangga. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang mencapai 17.300 dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga berdampak pada mata uang di kawasan.
Mengikuti Tren Regional Saat Ini
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah masih mengikuti tren yang terjadi di kawasan.
"Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional," kata Destry kepada Liputan6.com. Dalam catatan year-to-date, nilai rupiah tercatat melemah sebesar 3,54 persen. Meskipun demikian, pihak BI berpendapat bahwa pelemahan tersebut masih terbilang wajar jika dibandingkan dengan mata uang negara lain di kawasan yang juga mengalami tekanan yang serupa.
"Pergerakan Rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen," ujarnya.