Butuh Investasi Rp13.000 Triliun untuk Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi Ditarget Presiden Prabowo

Presiden Prabowo Subiato menargetkan ekonomi tumbuh 8 persen pada 2029 mendatang.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
Butuh Investasi Rp13.000 Triliun untuk Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi Ditarget Presiden Prabowo
Butuh Investasi Rp13.000 Triliun untuk Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi Ditarget Presiden Prabowo (Merdeka.com)

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani mengungkap besaran investasi yang dibutuhkan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Menurut dia, lebih dari Rp13.000 triliun perlu digiring masuk Indonesia untuk menopang target tersebut.

Rosan menyampaikan,Presiden Prabowo Subiato menargetkan ekonomi tumbuh 8 persen pada 2029 mendatang. Untuk itu, dibutuhkan angka investasi yang tidak sedikit dalam 5 tahun ke depan. Rincian angkanya bisa mencapai Rp13.032,8 triliun.

"Ini adalah target yang diberikan, sehingga dana yang diperlukan pada tahun 2025-2029, target tersebut adalah Rp13.032,8 triliun. Ini peningkatan kurang lebih 43 persen dari realisasi selama 10 tahun terakhir, memang peningkatannya mengalami cukup signifikan," kata Rosan dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (15/6).

Informasi saja, dalam kurun waktu 2014-2024, jumlah investasi yang dikumpulkan mencapai Rp9.117,4 triliun. Angka lebih besar harus dicapai dalam waktu yang jauh lebih singkat demi pertumbuhan ekonomi hingga 2029 mendatang.

Melihat data yang dimiliki Rosan, tren tambahan pertumbuhan ekonomi selaras dengan kenaikan realisasi investasi. Pada 2024 misalnya dengan pertumbuhan ekonomi 5,03 persen, jumlah investasi masuk mencapai Rp1.714,2 triliun. Pada 2025, ekonomi tumbuh 5,11 persen dengan realisais investasi Rp1.931,2 triliun. 

Chief Executive Officer (CEO) Danantara ini memastikan investasi yang masuk tidak sekadar angka. Melainkan turut melihat dampak pada pertumbuhan ekonomi dan masyarakat. "Strategi investasi kami tidak hanya semata-mata mengejar besaran nominasi atau nominal, tapi juga menargetkan bagaimana investasi yang masih masuk ini adalah investasi yang berkualitas," ucapnya.

"Di saat bersamaan juga realisasi atau akselerasi implementasi serta kontribusi terhadap penguatan ekonomi baik di daerah maupun di nasional," sambung Rosan.

Prabowo Panggil Menteri Bahas Investasi

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Minggu (14/6).

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menerima laporan dari Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, terkait meningkatnya kepercayaan dunia internasional dan tingginya minat investasi asing ke Indonesia.

"Presiden menerima laporan dari Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BPI Danantara terkait hasil kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat serta sejumlah negara di Eropa dan Asia," kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangannya, Minggu.

"Laporan tersebut menunjukkan fakta dan data valid meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia, yang tercermin dari tingginya minat dan masuknya investasi ke berbagai sektor strategis nasional," sambungnya.

Diminta Buka Data ke Publik

Menurut Teddy, Prabowo memerintahkan Rosan untuk menyampaikan data positif terkait tingginya minat investasi asing kepada masyarakat. Informasi tersebut akan disampaikan secara terbuka di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 15 Juni 2026.

"Presiden juga memerintahkan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani agar data positif tersebut disampaikan kepada publik secara terbuka pada besok siang, Senin, 15 Juni 2026, di Istana Merdeka," ujarnya.

Teddy mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menghadirkan informasi yang utuh dan berbasis fakta kepada masyarakat, termasuk terkait data investasi yang masuk ke Indonesia.

Rapat tersebut turut dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Dony Oskaria, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Sekretaris Kabinet Teddy.

Rekomendasi