Mengasah Skill Keamanan Digital Lewat CTF Competition, Cara Membentengi Dini dari Serangan Siber
Kompetisi ini diselenggaran mengingat urgensi penguatan talenta digital, khususnya di bidang keamanan siber.
Digital Solusi Grup (DSG) menyelenggarakan kegiatan bertajuk Zero Day, sebuah kompetisi cyber security yang dirancang sebagai wadah untuk menjaring, mengasah, sekaligus mencetak talenta-talenta terbaik di bidang keamanan siber. Kompetisi ini diselenggaran mengingat urgensi penguatan talenta digital, khususnya di bidang keamanan siber.
Diketahui sepanjang tahun 2025, Indonesia mengalami serangan siber dan anomali trafik sebanyak 5,5 miliar. Angka ini meningkat 714 persen atau tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020–2024, dengan rata-rata 182–188 serangan per detik.
Pada semester pertama Januari–Juli 2025, sudah tercatat 3,64 miliar serangan, hampir setara dengan total anomali selama lima tahun sebelumnya. Serangan malware mendominasi dengan proporsi mencapai 83,68–93,8 persen, diikuti oleh serangan DDoS yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu sumber serangan terbesar di dunia. Sektor perbankan, pemerintahan, dan infrastruktur kritis menjadi target utama, menandakan meningkatnya ancaman siber yang semakin kompleks dan masif di Tanah Air.
"Untuk mencetak talenta digital di bidang cyber security ini, tidak hanya peserta umum saja, kami juga berkolaborasi dengan sekolah dan juga kampus. Sinergi antara industri dan dunia pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan talenta cyber security yang siap menghadapi tantangan nyata di masa depan,” kata Dean Diyantha Putrandi, CEO dan Founder Digital Solusi Grup dalam keterangannya dikutip Senin (15/6).
Dean menjelaskan, kegiatan yang juga bermitra dengan Ngalup.co ini, mengusung semangat 'hacker adalah penjaga, bukan ancaman'. Zero Day menjadi ruang bagi para talenta digital untuk membuktikan kemampuan yang mereka miliki. Salah satunya yakni menyelesaikan tantangan berbasis praktik nyata di dunia cyber security.
"Kami menyelenggarakan mini games yang akan disesuaikan dengan kompetensi peserta. Mereka akan menyelesaikan challenge tersebut sebagai proses kurasi talenta secara berlapis untuk menemukan individu dengan kemampuan teknis yang teruji. Sehingga, tidak hanya fokus pada kompetisi,” kata dia.
Mini games ini harus diselesaikan antara lain Crypto & Puzzle (untuk pemula), dimana peserta akan menemukan hidden flag di file source code, metadata hingga URL. Selanjutnya, Web Breach SIM (menengah), di mana peserta akan menyelesaikan eksploitasi web app, vulnerable - SQL injection, XSS, path traversal.
Kemudian, Recon Challenge (menengah), dimana peserta akan mengumpulkan info dari target fiktif pakai teknik open-source intelligence. Serta, Reverse The Binary (lanjutan), peserta akan melakukan analisis dan reverse engineering binary sederhana untuk menemukan logic tersembunyi.
"Mini games ini juga disertai tingkat kesulitan yang meningkat di setiap tahapnya,” kata dia.
Peserta terbaik dari fase Mini Games ini akan melaju ke kompetisi utama Zero Day yang akan diselenggarakan pada 28 Juni 2026 di Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya. Kompetisi tersebut terbagi dalam tiga kategori, yaitu beginner (Scholar Battle) untuk pelajar dan mahasiswa, intermediate (Open Arena) untuk peserta umum, serta advanced (Zero Day Finals) untuk talenta dengan tingkat keahlian tinggi.
"Zero Day juga berperan sebagai talent pool yang mempertemukan talenta digital dengan kebutuhan industri. Melalui mekanisme ini, peserta berpotensi terlibat dalam berbagai proyek strategis di bidang cyber security,” kata dia.
Ekosistem Keamanan Digital
Kehadiran kompetisi seperti Zero Day menjadi bukti bahwa ekosistem pengembangan talenta cyber security di Indonesia terus berkembang. Inisiatif ini tidak hanya memberikan ruang bagi talenta untuk berkembang, tetapi juga mendorong lahirnya generasi profesional keamanan siber yang siap menjaga kedaulatan digital nasional.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem cyber security yang lebih kuat, sekaligus mempercepat kesiapan talenta digital Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan di era transformasi digital yang semakin kompleks,” tandas dia.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Malang, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM menyambut baik kegiatan ini.
"Komunikasi dan transaksi digital membuka ruang baru yang juga menghadirkan tantangan dalam hal keamanan data dan kenyamanan beraktivitas. Karena itu, event seperti ini penting sebagai wadah terkontrol bagi talenta, mahasiswa, dan siswa untuk mengasah kemampuan di bidang cyber security. Mengingat kebutuhan talenta di bidang ini terus meningkat, kami menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah positif dalam menyiapkan sumber daya yang kompeten,” tandas dia.