Impor Susah dan Kurs Rupiah Lemah, Harga Baju dan Sepatu di Mal Berpotensi Naik Mulai Bulan Depan
Kenaikan harga barang di mal pada tahun ini sudah terjadi sebanyak dua kali. Faktor utamanya karena barang impor sulit masuk, sehingga kekurangan stok.
Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mewaspadai adanya kenaikan harga produk kategori fesyen di mal, seperti baju hingga sepatu, pada Juli 2026. Ini terjadi sebagai imbas pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS dan kesulitan impor.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduanjsah mengatakan, secara umum harga barang di mal saat ini belum terdampak kenaikan. Lantaran masih ada stok lama yang baru masuk pasca Lebaran 2026.
"Nah, ini yang saya takut tadi bulan ke-7. Kalau dolarnya masih tinggi, sedangkan jatuh tempo pembayaran, nah itu yang kita khawatir. Harusnya kalau bisa cepet diturunkan," ujar dia saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6).
Potensi kenaikan harga ini berlaku untuk produk-produk kategori fesyen. "Kayak sepatu, baju-baju, tas gitu," ungkap Budihardjo.
Ia menyampaikan, kenaikan harga barang di mal pada tahun ini sudah terjadi sebanyak dua kali. Faktor utamanya karena barang impor sulit masuk, sehingga kekurangan stok.
Koordinasi dengan Pemilik Mal
"Kami sudah koordinasi agar Hippindo ini yang sudah punya toko di mal, yang sudah punya brand, diizinkan untuk mengimpor. Kalau kemarin kita diizinkan impor kan, otomatis kan kita punya stok. Kalau punya stok kan enggak buru-buru naik juga. Stok tuh penting," bebernya.
Oleh karenanya, pengusaha ritel berharap pemerintah bisa lebih mempermudah perizinan impor untuk brand-brand besar yang ada di pusat perbelanjaan atau mal.
"Kalau ngajuin impor, diberikan lah kemudahan dan sebebasnya. Karena mereka begitu impornya masuk, mereka akan buka toko, ngisi stok," pinta Budihardjo.