Kurs Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.105 per USD, Tenggat Waktu Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasar

Sepanjang sesi perdagangan, Rupiah bahkan sempat tertekan lebih dalam hingga melemah 75 poin sebelum akhirnya sedikit memangkas pelemahan menjelang penutupan.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Kurs Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.105 per USD, Tenggat Waktu Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasar
Kurs Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.105 per USD, Tenggat Waktu Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasar (Merdeka.com)

Nilai tukar atau kurs Rupiah kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan sore ini, Selasa (7/4). Mata uang rupiah tercatat turun sebesar 70 poin ke level Rp17.105 per dolar AS atau USD, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.035.

Sepanjang sesi perdagangan, Rupiah bahkan sempat tertekan lebih dalam hingga melemah 75 poin sebelum akhirnya sedikit memangkas pelemahan menjelang penutupan pasar.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang Rupiah ditutup melemah 70 poin di level Rp 17.105 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.035," kata pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Selasa (7/4).

Pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Di mana gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak.

"Upaya diplomatik untuk meredakan konflik tampaknya goyah. Iran menolak proposal yang didukung AS yang menguraikan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap, bersamaan dengan negosiasi yang lebih luas tentang pencabutan sanksi dan rekonstruks," ujarnya.

Iran menolak proposal tersebut, dan malah menyerukan penghentian permusuhan secara permanen, jaminan yang mengikat terhadap serangan di masa mendatang, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan.

Di samping itu, Trump menegaskan kembali bahwa tenggat waktu hari Selasa itu tegas dan memperingatkan bahwa kegagalan untuk mematuhi dapat memicu serangan AS terhadap infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ia juga mengatakan Iran dapat 'disingkirkan' dengan cepat, menggarisbawahi meningkatnya risiko eskalasi yang lebih luas.

Konfrontasi ini telah mengganggu aliran energi global dan mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi dan mempersulit prospek kebijakan moneter. Investor juga menunggu data inflasi AS penting yang akan dirilis pada hari Jumat, yang diharapkan memberikan petunjuk tentang lintasan suku bunga Fed.

Di dalam negeri, pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh desain subsidi berbasis komoditas membuka celah konsumsi oleh kelompok mampu. Skema subsidi energi yang belum tepat sasaran menjadi sorotan di tengah lonjakan harga minyak global.

"Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi masih dapat diakses tanpa pembatasan yang jelas. Kondisi ini membuat distribusi subsidi tidak sepenuhnya dinikmati kelompok yang berhak dan berisiko menimbulkan ketimpangan di lapangan. Kelompok seperti nelayan yang berhak justru berpotensi kekurangan pasokan," ujarnya.

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi kondisi fiskal Indonesia di tengah ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga yang jauh di atas asumsi APBN memperbesar beban subsidi energi.

Harga minyak yang telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD 70 per barel.  Kenaikan hingga sekitar USD 113 per barel memicu tekanan signifikan terhadap anggaran negara. 

"Fokus sasaran subsidi mesti dipertajam, ketika harga minyak melonjak ke USD 113 per barel, yang berarti lebih dari 60 prsen di atas asumsi APBN, tekanan fiskal langsung terasa melalui pembengkakan subsidi dan kompensasi," ujarnya.

Di sisi lain, ruang fiskal pemerintah dinilai semakin terbatas untuk meredam gejolak tersebut. Kenaikan harga energi berisiko memperlebar defisit jika tidak diimbangi langkah efisiensi. Penyesuaian harga BBM bukan opsi ideal dalam jangka pendek. 

Rekomendasi