Program pemulihan infrastruktur nasional di wilayah terdampak bencana terus dipacu. Bersinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), langkah taktis rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana kini tengah difokuskan di Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Upaya ini komitmen untuk menghadirkan infrastruktur yang lebih tangguh, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Penanganan pascabencana ini tidak sekadar memperbaiki fisik bangunan yang rusak. Langkah ini merupakan bagian integral dari dukungan terhadap program Asta Cita Pemerintah dalam mewujudkan ketahanan infrastruktur nasional.
Melalui proyek ini, pemerintah berupaya mengembalikan rasa aman, memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat, serta menumbuhkan kembali roda kehidupan di wilayah terdampak.
Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero), Dian Sovana, menyampaikan bahwa keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya dalam pembangunan ini merupakan wujud nyata kehadiran negara untuk mendukung pemulihan pascabencana.
"Setiap pembangunan yang kami laksanakan dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana ini merupakan bagian dari komitmen Brantas Abipraya untuk menghadirkan infrastruktur yang lebih siap menghadapi bencana, sekaligus mendukung percepatan pemulihan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. Kami bekerja sama dengan Kementerian PU untuk memastikan setiap pekerjaan, mulai dari normalisasi alur sungai hingga perkuatan tebing, benar-benar menjawab kebutuhan warga di lapangan,” ujar Dian di Jakarta, Selasa (7/7).
Advertisement
Pemetaan Wilayah dan Skala Prioritas Penanganan
Di Provinsi Sumatera Barat, intervensi pemulihan mencakup 10 wilayah strategis, yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kota Pariaman, dan Kota Padang.
Sektor krusial yang ditangani di antaranya adalah pembukaan alur sungai melalui pengerukan sedimentasi guna mengembalikan kapasitas aliran air sekaligus mereduksi risiko banjir bandang.
Normalisasi sungai ini berjalan di Desa Rantobi (Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara), serta di kawasan Batang Bayang, Batang Lengayang, dan Batang Palangai (Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat).
Advertisement
Penguatan Struktur Tebing dan Mitigasi Longsor
Selain penanganan sungai, penguatan tebing menggunakan struktur bronjong juga intensif dilakukan. Langkah mitigasi ini dirancang khusus untuk melindungi kawasan permukiman padat penduduk dari ancaman longsor dan erosi tanah, seperti yang saat ini tengah berjalan di Desa Pisang Palah, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Menurut Dian, esensi dari membangun kembali (building back better) adalah memperkuat ketahanan jangka panjang dan menyiapkan kawasan yang lebih siap menghadapi tantangan hidrometeorologi di masa depan.
"Kami ingin masyarakat di Sumatera Barat dan Sumatera Utara merasakan bahwa pemulihan ini nyata, bukan hanya perbaikan fisik, tetapi juga pemulihan rasa aman dan keberlangsungan aktivitas sehari-hari. Ini adalah bagian dari cara kami melayani sepenuh hati untuk Indonesia yang lebih tangguh,” tambah Dian.