Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp17.127 per USD
Pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan akibat sentimen pasar yang cenderung berhati-hati.
Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan sore hari ini, Selasa (14/4). Rupiah tercatat turun sebesar 22 poin ke level Rp 17.127 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp 17.105 per USD.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assu’aibi menyebut, sebelumnya Rupiah sempat mengalami tekanan lebih dalam hingga melemah 50 poin sebelum akhirnya memangkas pelemahan menjelang penutupan pasar.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang Rupiah ditutup melemah 22 point sebelumnya sempat melemah 50 poin di level Rp17.127 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Selasa (14/4).
Ia menilai, pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan akibat sentimen pasar yang cenderung berhati-hati. Meski demikian, rupiah mampu mengurangi pelemahannya di akhir sesi perdagangan.
Ia menambahkan bahwa dinamika global dan faktor eksternal masih menjadi pengaruh utama terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Menurutnya, tanda-tanda potensi dialog AS-Iran untuk mengakhiri perang mengurangi kekhawatiran tentang risiko pasokan yang berasal dari blokade AS terhadap Selat Hormuz.
Militer AS mengatakan pada hari Senin bahwa blokade mereka terhadap Selat Hormuz akan meluas ke timur hingga Teluk Oman dan Laut Arab, sementara data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal berbalik arah di selat tersebut saat blokade mulai berlaku.
"Sebagai tanggapan, Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan di negara-negara yang berbatasan dengan Teluk setelah runtuhnya pembicaraan akhir pekan di Islamabad yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis tersebut," ujarnya.
Negosiasi AS dan Iran
Sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan dialog antara Iran dan AS masih berlangsung, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan upaya yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan. Trump mengatakan pada hari Senin bahwa Iran ingin membuat kesepakatan.
Di sisi lain, Sekutu NATO, termasuk Inggris dan Prancis, menahan diri untuk tidak bergabung dalam blokade tersebut, dan malah menganjurkan pembukaan kembali jalur air vital itu.
Menteri Energi AS, Chris Wright menyatakan bahwa harga minyak dapat mencapai puncaknya dalam beberapa minggu ke depan setelah pengiriman kembali normal melalui Selat Hormuz.
"Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor di tengah apa yang mereka gambarkan sebagai guncangan paling signifikan yang pernah terjadi di pasar energi global," ujarnya.
Faktor Internal
Di tengah mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pelaku usaha cenderung menahan ekspansi besar yang bersifat padat modal, sambil fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional. Investasi juga mulai dialihkan ke sektor yang dinilai lebih resilien, seperti pangan, energi, dan digital.
"Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi, antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi," ujarnya.
Dari sisi penjualan, kinerja masih cenderung stagnan dalam jangka pendek, namun berpotensi membaik pada semester II/2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global. Konsumsi domestik dinilai tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga.