Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.180 per Dolar AS
Rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dan cenderung melemah di kisaran Rp17.140–Rp17.180 per dolar AS, dipengaruhi tekanan global dan konflik Timur Tengah.
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (16/4/2026), dengan kecenderungan melemah di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Mata uang domestik diproyeksikan berada di kisaran Rp17.140 hingga Rp17.180 per dolar Amerika Serikat.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assu’aibi, menyebut volatilitas rupiah masih tinggi seiring dinamika global yang memengaruhi pasar keuangan.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.140 - Rp 17.180," kata Ibrahim.
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (14/4/2026), rupiah ditutup melemah 16 poin ke level Rp17.143 per dolar AS, setelah sempat tertekan hingga 20 poin dari posisi sebelumnya di Rp17.127.
"Sebelumnya, Pada perdagangan Rabu (14/4) mata uang rupiah ditutup melemah 16 point sebelumnya sempat melemah 20 point dilevel Rp 17.143 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.127," ujarnya.
Tekanan Geopolitik dan Selat Hormuz
Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk kebijakan blokade laut terhadap Iran yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan global.
Menurutnya, risiko gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi energi dunia.
"Namun, blokade laut terhadap Iran berpotensi meningkatkan gangguan pengiriman di Selat Hormuz, terutama jika Teheran membalas langkah tersebut dengan kekuatan militer. Hormuz adalah titik fokus utama dalam perang Iran, dengan Teheran secara efektif memblokir saluran tersebut sebagai tanggapan terhadap permusuhan AS-Israel pada akhir Februari," ujarnya.
Selat Hormuz diketahui menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia, dengan sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik sangat bergantung pada jalur tersebut.
Selain itu, perkembangan diplomasi juga menjadi perhatian, termasuk upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung tanpa kesepakatan final.
"Harapan untuk de-eskalasi di Timur Tengah juga didukung oleh Israel dan Lebanon yang mengadakan negosiasi langsung di Washington. Keikutsertaan Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata merupakan tuntutan utama dari Iran," ujarnya.
Proyeksi Ekonomi Global dan Domestik
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026.
"Angka ini lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatatkan kenaikan 5,1%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2027 di 5,1%," kata Ibrahim.
IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1 persen pada 2026, dipengaruhi konflik geopolitik dan tekanan perdagangan.
Selain itu, World Bank turut menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen untuk 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.