Kebakaran Lahan Nagan Raya Meluas hingga 60 Hektare, Tim Gabungan Terus Berjibaku
Bencana kebakaran lahan di Nagan Raya, Aceh, telah meluas mencapai 60 hektare, menghadirkan tantangan besar bagi tim gabungan dalam upaya pemadaman intensif.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Nagan Raya, Aceh, dengan area terdampak yang kini mencapai 60 hektare. Bencana ini terjadi di dua lokasi berbeda, yaitu Desa Kayee Unoe, Kecamatan Darul Makmur, serta Desa Babah Lueng, Kecamatan Tripa Makmur. Peristiwa ini telah menjadi perhatian serius bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan tim gabungan.
Menurut Kepala BPBD Kabupaten Nagan Raya, Irfanda Rinaldi, tim gabungan telah berhasil memadamkan sekitar 40 hektare lahan yang terbakar. Namun, sisa area lainnya masih dalam penanganan intensif karena potensi api untuk meluas tetap tinggi. Kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor utama yang memperparah situasi di lapangan.
Insiden kebakaran lahan ini pertama kali dilaporkan kepada BPBD pada Jumat, 30 Mei 2026, oleh personel pos pemadam Darul Makmur. Meskipun demikian, api diperkirakan sudah mulai menyala sejak Kamis, 29 Mei 2026, dan terus membesar akibat kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran. Pihak berwenang terus berupaya keras mengendalikan api agar tidak merembet ke permukiman warga.
Luasnya Area Terdampak dan Upaya Pemadaman Intensif
Bencana karhutla di Nagan Raya telah menyebabkan kerugian ekologis yang signifikan dengan luasan lahan terbakar mencapai 60 hektare. Area ini tersebar di dua kecamatan, menunjukkan skala tantangan yang dihadapi oleh petugas di lapangan. Tim gabungan berupaya keras mencegah perluasan lebih lanjut.
Dari total lahan yang terbakar, sekitar 40 hektare telah berhasil dikendalikan oleh tim pemadam. Namun, sisa 20 hektare lainnya masih memerlukan penanganan serius karena api berpotensi terus menyebar. BPBD Nagan Raya telah mengerahkan dua unit mesin pompa air portable untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses.
Pengerahan alat bantu ini menjadi krusial mengingat medan yang sulit dan keterbatasan akses. Petugas bekerja tanpa henti untuk memastikan setiap titik api dapat dijangkau dan dipadamkan. Fokus utama adalah menyekat pergerakan api agar tidak mendekati area permukiman penduduk.
Tantangan Berat di Lapangan dan Kendala Pemadaman
Irfanda Rinaldi menjelaskan bahwa tim gabungan menghadapi tantangan yang sangat berat dalam upaya menjinakkan api. Cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah Nagan Raya menjadi pemicu utama cepatnya penyebaran api. Angin kencang juga mempercepat laju kobaran api di lahan kering.
Selain cuaca, kendala lain yang dihadapi adalah keterbatasan sumber air bersih di lokasi kejadian. Pasokan air yang minim menyulitkan armada pemadam kebakaran untuk bekerja secara optimal. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi lebih kompleks dan memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Hembusan angin kencang tidak hanya mempercepat penyebaran api tetapi juga berisiko mengarahkan api ke arah yang tidak terduga. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh personel yang bertugas. Tim harus terus beradaptasi dengan kondisi lapangan yang dinamis demi keselamatan dan efektivitas upaya pemadaman.
Kolaborasi Tim Gabungan dan Imbauan Pencegahan
Penanggulangan karhutla di Nagan Raya dilakukan secara bergotong-royong oleh berbagai pihak. BPBD Nagan Raya mendapatkan bantuan penuh dari personel Polres Nagan Raya dan Kodim 0116 Nagan Raya. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi antarlembaga dalam menghadapi bencana.
Tim gabungan ini terus berjibaku di lokasi kejadian, berupaya keras menyekat pergerakan api agar tidak membahayakan permukiman warga. Koordinasi yang baik antarinstansi menjadi kunci keberhasilan operasi pemadaman ini. Setiap anggota tim memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan dan mengendalikan situasi.
Mengingat kondisi cuaca yang cerah dan angin yang bertiup kencang ke arah barat, BPBD Nagan Raya mengimbau masyarakat. Warga diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi kering saat ini sangat rawan memicu bencana kebakaran yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Sumber: AntaraNews