Rupiah Melemah, Pariwisata Indonesia Berpotensi Terdongkrak
Pelemahan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS dinilai dapat meningkatkan daya tarik Indonesia bagi wisatawan asing dan mendorong sektor pariwisata.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026) tidak hanya membawa tekanan bagi sejumlah sektor ekonomi.
Kondisi tersebut juga dinilai membuka peluang bagi industri pariwisata nasional.
Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya berlibur di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara.
Situasi ini berpotensi meningkatkan daya tarik destinasi wisata domestik di tengah persaingan kawasan.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai depresiasi rupiah dapat memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di pasar internasional.
"Pariwisata juga berpotensi diuntungkan karena Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing, sepanjang faktor non-kurs mendukung," kata Nanang dikutip dari Liputan6.com, Kamis (4/6/2026).
Daya Beli Wisatawan Asing Meningkat
Menurut Nanang, wisatawan yang datang dengan dolar AS maupun mata uang kuat lainnya akan memperoleh nilai tukar yang lebih menguntungkan saat bertransaksi di Indonesia.
Kondisi tersebut membuat berbagai kebutuhan selama berlibur, mulai dari penginapan, makanan, transportasi hingga aktivitas wisata, menjadi lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.
Dengan biaya yang lebih kompetitif, Indonesia berpotensi menarik lebih banyak kunjungan wisatawan asing yang mencari destinasi dengan harga relatif murah namun tetap menawarkan beragam pilihan wisata.
Pelaku Industri Pariwisata Lihat Peluang
Pandangan serupa disampaikan PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF). Perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata golf itu menilai pelemahan rupiah dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kinerja usaha, khususnya di Bali yang menjadi salah satu pusat operasional perusahaan.
Investor Relation GOLF, Ravenal Arvense, mengatakan depresiasi rupiah justru dapat memperkuat daya tarik Bali di mata wisatawan internasional.
"Ketika rupiah melemah, Bali menjadi lebih murah bagi pihak asing untuk bertransaksi. Jadi ada sisi positif yang bisa dimanfaatkan dari situasi ini. Kami membidik pertumbuhan pendapatan dobel digit hingga sebesar 10% pada 2026 ini," kata Ravenal dalam Public Expose GOLF di Jakarta.
Menurutnya, biaya perjalanan dan aktivitas wisata yang lebih terjangkau bagi wisatawan luar negeri berpotensi meningkatkan kunjungan serta mendorong aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sektor pariwisata.
Perusahaan berharap kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan bisnis seiring meningkatnya minat wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia, khususnya Bali.