Pemesanan Hotel Laris Manis saat Libur Imlek, Ada Tarif Hotel Rp13.661.196 per Malam
Tren ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan rekreasi dan pelarian dari rutinitas tetap menjadi prioritas bagi banyak orang.
Meski ekonomi tahun 2025 tengah lesu, antusiasme masyarakat untuk berlibur ke berbagai daerah tetap tinggi. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat pemesanan hotel di sejumlah destinasi wisata populer, seperti Yogyakarta, Bandung, dan Bali.
Tren ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan rekreasi dan pelarian dari rutinitas tetap menjadi prioritas bagi banyak orang, meskipun kondisi ekonomi sedang tidak mendukung. Tak hanya itu fenomena ini mencerminkan kuatnya budaya pariwisata dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan informasi dari sejumlah aplikasi Online Travel Agent (OTA), tarif hotel di Yogyakarta untuk periode menginap mulai Selasa (28/1) hingga Minggu (2/2) berkisar antara Rp315.429 per malam untuk kamar berkapasitas dua orang dewasa hingga Rp7.014.956 per malam untuk pilihan premium.
Sementara itu, di Bandung, tarif penginapan termurah mencapai Rp80.564 per malam, sedangkan yang termahal berada di angka Rp3.305.142 per malam.
Di destinasi favorit wisatawan, Bali, harga kamar bervariasi mulai dari Rp119.874 per malam hingga Rp12.332.152 per malam untuk pengalaman menginap yang lebih mewah.
Sedangkan di Lombok harga hotel per kamarnya dibanderol Rp47.617 per malam hingga Rp13.661.196 per malam.
Prediksi Ekonomi 2025
PT Mandiri Sekuritas memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap stabil di kisaran 5,1 persen pada tahun 2025.
Proyeksi ini didorong oleh peningkatan permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga, serta kinerja ekspor yang terpengaruh oleh perlambatan ekonomi global dan kemungkinan tarif impor yang lebih tinggi dari Amerika Serikat (AS) terhadap barang-barang asal China dan negara lainnya.
Rangga Cipta, Chief Economist Mandiri Sekuritas, menyampaikan bahwa pemulihan konsumsi rumah tangga dan dimulainya kembali siklus investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, akan menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia pada tahun 2025.
"Sementara itu, kami memproyeksikan inflasi rata-rata sebesar 2,6 persen pada tahun depan, meningkat dari 2,3 persen di tahun 2024. Kenaikan inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh efek dari inflasi inti yang lemah serta tarif PPN yang lebih tinggi hingga 12 persen di tahun 2025," ungkap Rangga dalam keterangan resmi yang dikutip pada Minggu (24/11).
Untuk nilai tukar Rupiah, proyeksi pada tahun 2025 menunjukkan rata-rata Rp15.700 per dolar AS, yang mencerminkan sedikit apresiasi dibandingkan dengan tahun 2024.
"Ruang apresiasi Rupiah yang terbatas mencerminkan stabilitas dolar AS, yang didukung oleh kebijakan Trump yang berfokus pada pengendalian inflasi, serta perlindungan yang baik dalam aspek fiskal dan perdagangan internasional," tutup Rangga.