Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, menyebut tingkat hunian hotel di Bali pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 sudah menunjukkan tren positif. Rata-rata okupansi hotel di Pulau Dewata kini mencapai 80 persen.
Peningkatan tersebut mulai terasa sejak sebelum Hari Raya Natal, tepatnya sejak 20 Desember 2025. Ia memprediksi tingkat hunian hotel akan terus menanjak hingga akhir libur Nataru dan berpotensi mencapai 90–95 persen sampai 5 Januari 2026.
"Sudah terangkat okupansi mulai 80 persen menanjaknya ini. Mudah-mudahan di penghujung tahun bisa mencapai 90 sampai 95 persen okupansi hotel," kata Suryawijaya saat dihubungi, Jumat (26/12).
Ia memperkirakan lonjakan signifikan akan terjadi mulai Sabtu (27/12), seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Berdasarkan data lapangan, jumlah wisman sepanjang 2025 diprediksi meningkat sekitar 11 persen dan mencapai 7 juta orang.
Advertisement
Angka tersebut melampaui target Pemerintah Provinsi Bali yang mematok 6,5 juta wisman pada 2025. Sebagai perbandingan, jumlah kunjungan wisman ke Bali pada 2024 tercatat sebanyak 6,3 juta orang.
"Mulai besok juga akan lebih meningkat lagi. Mudah-mudahan kita capai di tahun baru ini mencapai 90 sampai 95 persen. Saya pantau berdasarkan data di lapangan, data wisatawan mancanegara, kalau kita bandingkan dengan 2024 itu 6,3 juta, dengan 2025 ini kita akan mencapai 7 juta," sebutnya.
"Jadi melebih dari target Provinsi Bali 6,5 juta untuk internasional turisnya dan kita bisa mencapai 7 juta. Artinya, kalau kita bandingkan dengan pertumbuhan kedatangan wisatawan secara kuantitas, sekarang jumlah ini meningkat 11 persen," lanjutnya.
Suryawijaya menjelaskan, sebelum periode Nataru, tepatnya pada 20–24 Desember 2025, tingkat hunian hotel di Bali masih berada di kisaran 65 persen. Namun, sejak memasuki puncak liburan, okupansi melonjak hingga 80 persen.
Ia juga menepis anggapan bahwa Bali tengah sepi wisatawan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak sepenuhnya benar karena secara umum kunjungan wisman justru mengalami peningkatan.
"Enggak pernah sepi Bali, enggak ada low season. Tingkat hunian Bali tetap meningkat, Yang menurun pun sampai pada saat Bulan November sampai pertengahan Desember 2025. Tadinya menurun sampai 65 persen rata-rata, itu masih normal di kategorikan, bukan low season, normal season," ujarnya.
"Jadi low season itu, kalau di bawah 50 persen baru low season. Jadi masih normal Bali itu. Kalau kita bicara secara overall atau seluruh Bali. Tapi kalau case by case, satu, dua hotel ada yang low (sepi)," sambungnya.
Ia menambahkan, jika ada hotel yang mengalami penurunan okupansi, penyebabnya bisa beragam. Mulai dari kualitas produk dan layanan yang menurun hingga manajemen yang kurang optimal dalam memasarkan hotel.
Advertisement
Menurutnya, karakter wisatawan yang datang ke Bali sepanjang 2025 didominasi segmen menengah ke bawah. Kondisi ini membuat wisatawan cenderung memilih akomodasi yang sesuai dengan anggaran.
"Jadi jangan salahkan situasi, kalau kita lihat peningkatannya ada. Kedua kedatangan wisatawan saat ini karakteristiknya itu adalah yang middle low. Kebanyakan hotel yang disasar adalah penginapan-penginapan yang sesuai budget. Dari apartemen, kondotel (condominium hotel), pondok wisata, vila-vila, guest house, bahkan ada yang kos-kosan," jelasnya.
Suryawijaya juga memaparkan gambaran okupansi hotel sepanjang 2025. Pada semester pertama, Januari hingga Juni, tingkat hunian berada di kisaran 70–80 persen. Memasuki Juli hingga Oktober, okupansi meningkat menjadi 80–90 persen yang merupakan periode high season.
"Kemudian di Juli, Agustus, September, Oktober itu meningkat 80 sampai 90 persen. Itu haig season. Sekarang November turun sedikit, itu normal lagi ke 65 persen tanggal 20 Desember meningkat lagi. Jadi tidak menurun drastis," katanya.
Advertisement
Terkait sektor transportasi yang dinilai masih sepi, ia menyebut hal itu dipengaruhi cuaca ekstrem. Banyak wisatawan memilih menghabiskan waktu di penginapan akibat hujan yang kerap turun.
"Sekarang kenapa transportasi sepi dibilangnya. Iya itu karena banyak juga wisatawan yang stay menikmati liburannya di fasilitas yang ada di penginapan masing-masing dan hanya beberapa wisatawan (yang berlibur untuk jalan-jalan), karena situasi hujan. Jadi itu yang menyebabkan mereka belum keluar dan keluarnya pun hanya sampai ke pantai," jelasnya.
Ia menegaskan, meski jumlah wisman meningkat, tingkat hunian hotel tidak serta-merta melonjak tajam karena adanya penambahan pasokan kamar di Bali. Pembangunan hotel, vila, dan akomodasi baru turut memengaruhi rasio okupansi.
"Ada pertumbuhan daripada supply-nya. Dari penyediaan hotel itu supply. Demand-nya meningkat 11 persen. Sekarang supply-nya juga meningkat, sehingga tingkat hunian tidak otomatis menanjak dengan kedatangan, itu tidak. Tapi secara umum di Bali demand-nya masih ada," ungkapnya.
Ia memperkirakan jumlah kamar hotel di Bali, baik berbintang maupun nonbintang, termasuk vila dan kondotel, telah mencapai sekitar 168 ribu kamar, dengan 71 persen di antaranya berada di wilayah Bali Selatan.
"Jumlah kamar, prediksi saya baik yang star hotel atau yang berbintang, maupun non-star hotel, termasuk vila, kondotel itu, sudah melampaui atau bisa 168 ribu. Dan 71 persennya ada di Bali Selatan," jelasnya.
Advertisement
Sementara itu, kunjungan wisatawan domestik pada 2025 diakui mengalami penurunan. Faktor ekonomi nasional, harga tiket pesawat domestik yang tinggi, serta minimnya cuti bersama menjadi penyebab utama.
"Target kita di tahun 2025 ini domestik 10,5 juta. Kemungkinan ada penurunan 10 persen, penyebabnya karena ekonomi nasional tidak baik-baik saja. Banyak yang berwisata di dalam (daerah). Misalnya di Jawa saja, sekarang ramai di Surabaya, di Semarang, di Jogja, Jakarta, dan Bandung. Jadi hanya beberapa yang ke Bali," jelasnya.
Selain itu, sebagian wisatawan domestik memilih berlibur ke luar negeri seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan. Hal ini dipicu oleh harga tiket domestik yang hampir setara dengan penerbangan internasional.
"Itu kan mempengaruhi pangsa pasarnya. Misalnya, daripada ke Jakarta mahal, mendingan sekalian ke Singapura atau ke Malaysia. Makanya saran saya, kedepannya ini harga tiket untuk domestik-nya perlu ditinjau dievaluasi. Sehingga menggairahkan wisatawan domestik itu travelling di dalam negeri, dan tidak membawa devisa itu ke luar negeri," pungkasnya.