Dibayangi Ketidakpastian Global, Kurs Rupiah Diprediksi Melemah ke Level Rp17.200 per USD
Adapun pada perdagangan sebelumnya, Senin (20/4), Rupiah justru menunjukkan penguatan.
Nilai tukar atau kurs Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (21/4), dengan kecenderungan ditutup melemah. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, Rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.160 hingga Rp 17.200 per USD pada perdagangan hari ini.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.160- Rp17.200," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Selasa (21/4/).
Adapun pada perdagangan sebelumnya, Senin (20/4), Rupiah justru menunjukkan penguatan. Mata uang domestik ditutup naik 21 poin ke level Rp17.168 per USD, setelah sempat menguat hingga 25 poin sepanjang sesi perdagangan. Posisi ini lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.188 per USD.
Meski demikian, pergerakan rupiah yang cenderung fluktuatif menunjukkan pasar masih dibayangi ketidakpastian global. Sentimen dari arah kebijakan moneter, pergerakan dolar AS, hingga dinamika harga komoditas turut memengaruhi arah mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Ibrahim mengatakan, berita bahwa Selat Hormuz kembali ditutup setelah AS dan Iran sama-sama mengatakan pihak lain telah melanggar kesepakatan gencatan senjata mereka dengan menyerang kapal-kapal selama akhir pekan. Karena AS menembaki dan menangkap kapal Iran yang mencoba menghindari blokade.
Militer AS telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade, kata Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu, sementara Iran mengatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua pembicaraan damai meskipun Trump mengancam akan melakukan serangan udara lagi.
"Amerika Serikat telah mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran telah mencabut dan kemudian memberlakukan kembali blokade terhadap Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang dimulai hampir dua bulan lalu," ujarnya.
Faktor Komoditas
Di sisi lain, harga minyak melonjak hingga 7 persen pada hari Senin, membuat pasar sebagian besar tegang karena efek inflasi dari perang Iran.
Kekhawatiran atas inflasi yang dipicu oleh energi merupakan beban utama pada harga logam sejak dimulainya konflik pada akhir Februari.
"Selain itu, ketegangan baru ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS tahun ini telah bergeser secara signifikan ke arah sikap lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama sebagai akibat dari inflasi yang masih tinggi akibat tingginya harga energi dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah," pungkasnya.