Nilai Tukar Rupiah Makin Loyo Tembus Rp17.400, Pengamat Ungkap Penyebabnya
Pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat.
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan kini terus melemah menembus level Rp17.400 per dolar AS.
"Rupiah yang mengalami pelemahan sudah di atas Rp17.400. Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp17.550. Kemungkinan besar, kemungkinan akan tercapai," kata Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assu’aibi kepada Liputan6.com, Selasa (5/5).
Ia menilai, pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat.
Menurut Ibrahim, eskalasi konflik geopolitik menjadi pemicu utama. Ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah mengguncang pasar global, terutama sektor energi.
"Kita tahu bahwa sebelumnya Trump sendiri sudah menginstruksikan terhadap Angkatan Laut Amerika yang berada di Laut Oman, Laut Internasional untuk melakukan penguasaan terhadap Selat Hormuz yang sebelumnya dikuasai oleh Iran. Ini yang membuat ketegangan terbaru karena ada lebih dari lima kapal perang kecil Iran yang dibombardir dan hancur. Ini membuat ketegangan tersendiri di Timur Tengah," jelasnya.
Selain itu, konflik di Eropa Timur turut memperparah situasi. Serangan drone yang dilakukan Ukraina ke fasilitas kilang minyak Rusia disebut mengganggu produksi energi global. Dampaknya, pasokan minyak berkurang dan harga energi meningkat signifikan.
Kenaikan harga minyak ini berimbas langsung pada Indonesia sebagai negara importir. Kebutuhan dolar AS meningkat untuk memenuhi impor energi, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.
Di sisi lain, inflasi global yang meningkat mendorong bank sentral seperti Federal Reserve untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Kebijakan ini biasanya memperkuat dolar AS dan membuat mata uang negara berkembang semakin tertekan.
Faktor Domestik
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kondisi fundamental yang mulai melemah. Cadangan devisa Indonesia dilaporkan menyusut akibat intervensi intensif yang dilakukan Bank Indonesia di pasar valas dan obligasi.
"Di sisi lain pun juga cadangan devisa, Indonesia pun juga mengalami penyusutan akibat Bank Indonesia yang terus melakukan intervensi, baik di pasar internasional maupun pasar domestik, kemudian di obligasi maupun surat hutang negara yang begitu masif, sehingga cadangan devisa sedikit menyusut," ujarnya.
Indikator ekonomi juga menunjukkan perlambatan. Data PMI manufaktur yang berada di bawah level 50 menandakan kontraksi sektor industri. Kondisi ini mencerminkan mahalnya bahan baku impor dan terganggunya rantai pasok global,
"Kita melihat sudah di bawah 50, artinya ini mengindikasikan bahwa impor-impor barang dari luar negeri mengalami tekanan karena harganya mahal kemudian barangnya tidak ada, sehingga membuat manufaktur di Indonesia mengalami penurunan. Nah ini dampaknya sudah terlihat," pungkasnya.