Rupiah Melemah ke Rp16.725 per Dolar AS: Sentimen Global dan Kebijakan The Fed Jadi Sorotan
Nilai tukar Rupiah Melemah 38 poin ke Rp16.725 per dolar AS pada Jumat (2/1), dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan kebijakan moneter The Fed yang terbelah.
Nilai tukar Rupiah Melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (2/1) sore. Pelemahan ini tercatat sebesar 38 poin atau 0,23 persen, membawa Rupiah ke level Rp16.725 per dolar AS. Kondisi ini menjadi perhatian pasar di tengah awal tahun yang penuh dinamika ekonomi global.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan geopolitik yang masih diselimuti ketidakpastian. Faktor-faktor eksternal ini secara signifikan memengaruhi pergerakan mata uang domestik. Pasar kini menyoroti berbagai perkembangan yang bisa membentuk arah Rupiah ke depan.
Pergerakan nilai tukar ini juga tidak lepas dari perkembangan kebijakan moneter di AS, khususnya risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember yang dirilis pekan ini. Risalah tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) terkait arah suku bunga di masa mendatang.
Dilema Kebijakan Suku Bunga The Fed dan Tekanan Global
Pasar keuangan global terus mencermati hasil risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember yang baru saja dirilis. Dokumen tersebut mengungkap adanya pandangan yang terbelah di kalangan pejabat The Fed mengenai kebijakan suku bunga. Sebagian pejabat berpendapat bahwa suku bunga sebaiknya dipertahankan setelah tiga kali pemangkasan sepanjang tahun lalu.
Namun, sebagian lainnya melihat adanya peluang untuk melanjutkan penurunan suku bunga. Opsi ini akan dipertimbangkan jika inflasi terus menunjukkan tren penurunan yang berkelanjutan. Ibrahim Assuaibi mengutip, "beberapa pembuat kebijakan menilai bahwa kemungkinan akan tepat untuk mempertahankan penurunan suku bunga lebih lanjut jika inflasi menurun dari waktu ke waktu."
Ketidakpastian ini menciptakan volatilitas di pasar mata uang, termasuk bagi Rupiah. Keputusan The Fed mengenai suku bunga memiliki dampak langsung terhadap aliran modal dan persepsi investor terhadap aset-aset berisiko, seperti mata uang negara berkembang. Oleh karena itu, setiap pernyataan dari The Fed selalu menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Gejolak Geopolitik Global Memicu Ketidakpastian
Selain kebijakan moneter, tekanan eksternal terhadap Rupiah juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas, dengan kedua belah pihak saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru.
Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomasi intensif yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun. Di sisi lain, AS juga meningkatkan tekanan terhadap Venezuela dengan menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan kapal tanker minyak yang terkait dengan sektor energi negara tersebut.
Langkah-langkah geopolitik ini menambah kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan stabilitas ekonomi. Ketegangan di Timur Tengah juga kembali meningkat, dengan serangan udara Arab Saudi di Yaman serta pernyataan Iran mengenai "perang skala penuh" dengan AS, Eropa, dan Israel. Ibrahim Assuaibi menambahkan, "Trump memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut jika Iran melanjutkan pembangunan kembali program nuklirnya."
Kinerja Manufaktur Domestik dan Proyeksi Rupiah
Meskipun menghadapi sentimen eksternal yang menekan, sentimen ekonomi dari dalam negeri relatif terjaga. Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan kinerja ekspansif pada Desember 2025. Hal ini tercermin dari laporan S&P Global yang menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 51,2.
Angka ini, meskipun sedikit turun dari 53,3 pada November, masih berada di atas ambang batas 50, yang menandakan ekspansi telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut. Pendorong utama ekspansi tersebut berasal dari kenaikan pesanan baru yang terus berlanjut.
Perusahaan melaporkan bahwa peluncuran produk baru dan bertambahnya jumlah pelanggan menjadi faktor utama peningkatan penjualan, meskipun laju pertumbuhan permintaan melambat. Namun, pesanan ekspor baru masih mencatatkan kontraksi selama empat bulan berturut-turut. Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memproyeksikan pergerakan Rupiah masih akan fluktuatif, bergerak di kisaran Rp16.720 hingga Rp16.750 per dolar AS.
Sumber: AntaraNews