Rupiah Sentuh Rp16.624 di 2 Desember 2025, Menguat atau Masih Tertekan?
Rupiah menguat ke Rp16.624. Ibrahim paparkan faktor eksternal seperti The Fed dan tensi geopolitik, serta faktor domestik termasuk inflasi.
Mata uang rupiah menutup perdagangan Selasa (2/12) dengan penguatan tipis ke posisi Rp16.624 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencatat rupiah sempat menguat hingga 55 poin sebelum akhirnya ditutup menguat 38 poin dari sesi sebelumnya di level Rp16.663.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 38 point sebelumnya sempat menguat 55 point dilevel Rp 16.624 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.663,” ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, sentimen eksternal berperan besar terhadap pergerakan rupiah. Ekspektasi pelonggaran The Federal Reserve meningkat setelah CME FedWatch Tool menunjukkan peluang penurunan suku bunga 25 basis poin pada Desember mencapai 87,4%.
Ia juga menyoroti dinamika di Amerika Serikat, termasuk spekulasi penunjukan Kevin Hassett sebagai calon Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell. Presiden AS Donald Trump, kata Ibrahim, belum mengumumkan nama resmi, namun mengklaim sudah membuat keputusan.
Dari sisi data ekonomi, Institute for Supply Management (ISM) mencatat kontraksi sektor manufaktur AS selama sembilan bulan beruntun.
“Data lebih lanjut, yang diungkapkan oleh ISM, menunjukkan bahwa harga input meningkat dan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi rendahnya tingkat pemecatan dan perekrutan,” kata Ibrahim.
Di Eropa Timur, ketegangan Rusia–Ukraina kembali meningkat setelah serangan drone Ukraina mengganggu aktivitas terminal minyak di Laut Hitam yang menjadi jalur ekspor utama Rusia dan Kazakhstan.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Venezuela juga mengalami peningkatan tensi diplomatik setelah pejabat AS menyatakan kemungkinan memperketat pembatasan udara. Trump menuduh Venezuela membiarkan aliran narkoba ke wilayahnya.
Inflasi RI Melemah, Penopang Penguatan Rupiah
Dari dalam negeri, rupiah turut ditopang oleh pergerakan inflasi domestik yang kembali melandai. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,17% secara bulanan pada November, lebih rendah dari Oktober yang mencapai 0,28%. Inflasi tahunan turun menjadi 2,72%.
“Inflasi tersebut terutama ditopang oleh komponen inti yang naik 0,17% dan berkontribusi 0,11% terhadap inflasi nasional. Komoditas emas perhiasan kembali menjadi pendorong terbesar,” ujarnya. Harga emas tercatat naik hampir 4% dan memberi andil 0,08%.
Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintah—khususnya tarif angkutan udara—menunjukkan kenaikan 0,24% dengan kontribusi 0,05%. Harga pangan bergejolak hanya naik tipis 0,02% akibat kenaikan sejumlah sayuran seperti bawang merah, wortel, jeruk, sawi hijau, ketimun, dan kacang panjang.
Ibrahim juga mengutip data Kementerian Keuangan yang melaporkan posisi utang pemerintah per akhir kuartal III-2025 sebesar Rp9.408,64 triliun. Sebagian besar berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp8.187,55 triliun atau 87,02%, sementara pinjaman menyumbang Rp1.221,09 triliun.
Rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di angka 40,30%. Nilai utang dari SBN meningkat 2,59% dibanding kuartal sebelumnya.