Menteri Bahlil Kaji Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Harga BBM
Laode belum bisa memastikan apakah pelemahan nilai tukar mata uang garuda bakal turut menyebabkan harga BBM naik pada bulan berikutnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia tengah mengkaji dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap penyesuaian harga BBM. Pembahasan ini dilakukan demi menghitung imbas kurs rupiah yang telah mencapai level Rp17.500 per dolar AS terhadap subsidi energi.
"Ini kebetulan Pak Menteri (Bahlil) sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya, jadi kita tunggu saja," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM. Laode Sulaeman di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5).
Oleh karenanya, Laode belum bisa memastikan apakah pelemahan nilai tukar mata uang garuda bakal turut menyebabkan harga BBM naik pada bulan berikutnya.
"Itu masih kan belum ada info-info lain lagi selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya saja nanti," kata dia.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah makin lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus Rp17.500 per USD pada Selasa (12/5) kemarin.
Analis menilai, rupiah melemah terhadap dolar AS imbas harapan suku bunga tinggi the Federal Reserve (the Fed) yang lebih lama dan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Rupiah Turun 0,66 Persen
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.414 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa ini juga bergerak melemah ke level Rp17.514 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.415 per dolar AS.
"Penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi the Fed yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah,” ujar Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Tiffani Safinia dikutip dari Antara.
Suku Bunga The Fed Diprediksi Tak Turun
Pelaku pasar memprediksi Fed Fund Rate (FFR) atau suku bunga The Fed tak turun sepanjang 2026 di level 3,75 persen. Probabilitas CME FedWatch menunjukkan 350-375 basis points (bps) dominasi hingga akhir tahun.
Pelaku pasar juga masih menanti arah inflasi Amerika Serikat yang akan menentukan harapan kebijakan moneter the Fed ke depan.
Melihat sentimen domestik, pelemahan rupiah juga dibayani sentimen terkait aliran modal asing dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Adapun isu MSCI yang sebelumnya mencermati aspek transparansi dan struktur pasar modal Indonesia, ia menuturkan, turut meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap aset domestik.