Rupiah Melemah di Pembukaan Perdagangan, Tembus Rp16.923 per Dolar AS
Nilai tukar Rupiah melemah 0,18 persen terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, mencapai Rp16.923. Pelemahan Rupiah ini dipicu sentimen global dan domestik yang perlu dicermati pasar.
Nilai tukar Rupiah bergerak melemah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (13/3/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat turun 30 poin atau 0,18 persen, mencapai level Rp16.923 per dolar Amerika Serikat (AS) dari penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp16.893 per dolar AS.
Pelemahan Rupiah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan kekhawatiran akan inflasi. Situasi ini mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman, seperti dolar AS, sehingga memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang.
Berbagai sentimen eksternal dan domestik turut memengaruhi pergerakan kurs Rupiah hari ini. Analis pasar uang memprediksi volatilitas akan terus berlanjut, dengan fokus pasar tertuju pada data ekonomi global dan perkembangan geopolitik.
Pergerakan Rupiah di Awal Perdagangan
Pada pembukaan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, nilai tukar Rupiah menunjukkan pelemahan signifikan. Rupiah dibuka pada level Rp16.923 per dolar AS, turun dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.893 per dolar AS.
Beberapa sumber lain mencatat pelemahan Rupiah di pasar spot mencapai Rp16.958 per dolar AS, terdepresiasi 0,38 persen. Bahkan, data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan Rupiah melemah 0,20 persen menjadi Rp16.934 per dolar AS.
Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren yang terjadi dalam sepekan terakhir, di mana Rupiah terdepresiasi 0,19 persen dari Rp16.925 per dolar AS pada Jumat (6/3). Situasi ini mengindikasikan adanya tekanan berkelanjutan terhadap mata uang domestik.
Faktor Global Pemicu Pelemahan Rupiah
Pelemahan Rupiah dipicu oleh sentimen 'risk off' di pasar global, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko seperti mata uang negara berkembang. Lonjakan harga minyak dunia, yang menembus US$100 per barel, menjadi salah satu pemicu utama.
Kenaikan harga minyak ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS-Israel dengan Iran, serta potensi penutupan Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga gangguannya memicu kekhawatiran pasokan dan inflasi global.
Kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi ini memicu spekulasi bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), mungkin akan menerapkan kebijakan moneter yang lebih agresif atau menahan pemotongan suku bunga. Suku bunga AS yang lebih tinggi akan memperkuat daya tarik dolar AS, menekan mata uang lainnya.
Selain itu, data ekonomi AS seperti Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) juga menjadi perhatian pasar. Rilis data ini memberikan petunjuk mengenai arah inflasi dan kebijakan The Fed ke depan, yang sangat memengaruhi pergerakan dolar AS secara global.
Tekanan Domestik dan Dampaknya
Dari sisi domestik, kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit anggaran juga turut menekan Rupiah. Hal ini terutama terkait dengan kenaikan subsidi yang dipengaruhi oleh harga minyak global dan isu disiplin fiskal pemerintah.
Beban pembayaran bunga utang pemerintah yang meningkat juga menjadi sorotan investor, membatasi ruang fiskal untuk mendorong ekonomi melalui percepatan belanja negara. Defisit transaksi berjalan yang kronis dan kebijakan fiskal yang ekspansif juga disebutkan sebagai faktor domestik.
Pelemahan Rupiah memiliki dampak luas bagi perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah kenaikan harga barang impor, terutama pangan dan barang elektronik, yang berpotensi memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
Sektor industri dan manufaktur juga akan merasakan tekanan akibat peningkatan biaya impor bahan baku. Selain itu, pelemahan Rupiah membuat nilai pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri pemerintah membengkak dalam Rupiah, menambah beban fiskal negara.
Upaya Stabilisasi dan Prospek Rupiah
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai Rupiah di tengah gejolak pasar. BI melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
Selain itu, BI juga mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen. Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dan mendukung pencapaian sasaran inflasi.
BI juga memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, termasuk sinergi yang erat antara kebijakan moneter dan fiskal, untuk bersama-sama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Meskipun demikian, prospek Rupiah masih diproyeksikan fluktuatif dan cenderung melemah dalam jangka pendek, terutama jika ketegangan global dan lonjakan harga minyak terus berlanjut. Para analis menyarankan agar pemerintah menyiapkan langkah kebijakan fiskal untuk meredam dampak lebih luas terhadap perekonomian.
Sumber: AntaraNews