Trump Boyong Deretan CEO AS Sambangi China, Belum Hasilkan Kesepakatan Raksasa
Trump dan Xi Jinping mengadakan pertemuan di Beijing, dihadiri oleh para pemimpin teknologi seperti Elon Musk.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk memperkuat hubungan ekonomi antara kedua negara. Meskipun pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung lebih dari dua jam, sayangnya belum ada kesepakatan dagang besar yang dihasilkan.
Melansir BBC, pada Jumat (15/5/2036), Trump menyatakan bahwa hubungan antara AS dan China adalah hubungan ekonomi yang paling penting di dunia. Gedung Putih juga menilai bahwa pembicaraan tersebut berlangsung dengan sangat produktif, meskipun belum ada pengumuman mengenai perjanjian perdagangan baru.
Kedua negara hanya menegaskan kelanjutan dari gencatan dagang yang sebelumnya telah disepakati. Trump tiba di Beijing bersama sejumlah pemimpin perusahaan besar AS, termasuk Elon Musk dan CEO Nvidia, Jensen Huang. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa sektor teknologi, terutama kecerdasan buatan dan semikonduktor, menjadi fokus utama dalam pembicaraan.
Di sisi lain, Xi Jinping mengingatkan bahwa isu Taiwan tetap menjadi persoalan paling sensitif dalam hubungan kedua negara. Ia menegaskan, "Jika tidak ditangani dengan baik, kedua negara bisa berbenturan atau bahkan masuk ke dalam konflik."
Selain membahas perdagangan, kedua pemimpin juga mengupas topik investasi, akses pasar, serta kerja sama di sektor energi dan pertanian. Namun, hasil konkret dari pembicaraan tersebut diperkirakan baru akan terlihat dalam pertemuan lanjutan yang dijadwalkan beberapa bulan ke depan. Dengan demikian, meskipun ada harapan untuk kemajuan, tantangan dalam hubungan AS-China masih tetap ada dan perlu diatasi dengan hati-hati.
Harapan Trump Hubungan AS dan China Semakin Kuat
Sebelumnya, Presiden Donald Trump pada Jumat (15/5/2026) mengungkapkan harapannya agar hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China dapat menjadi lebih kuat dan lebih baik daripada sebelumnya. Pernyataan ini disampaikan saat lawatannya ke Beijing, di mana Trump juga mengklaim bahwa Presiden Xi Jinping telah mengucapkan selamat atas banyak keberhasilan yang diraihnya. Dalam pernyataannya yang diunggah melalui platform media Truth Social, Trump menyatakan:
Ketika Presiden Xi dengan sangat elegan menyebut AS sebagai negara yang mungkin sedang mengalami kemunduran, ia merujuk pada kerusakan besar yang kami alami selama empat tahun di bawah Sleepy Joe Biden dan Pemerintahan Biden --- dan dalam hal itu, ia 100 persen benar. Negara kami sangat dirugikan oleh kebijakan perbatasan terbuka, pajak tinggi, promosi agenda transgender secara luas, keterlibatan pria dalam olahraga wanita, DEI, perjanjian dagang yang buruk, tingkat kriminalitas yang merajalela, dan masih banyak lagi! Presiden Xi tidak merujuk pada kebangkitan luar biasa yang telah ditunjukkan AS kepada dunia selama 16 bulan spektakuler Pemerintahan Trump, yang mencakup pasar saham dan dana pensiun 401(k) yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, kemenangan militer serta hubungan yang semakin berkembang dengan Venezuela, penghancuran kekuatan militer Iran (akan berlanjut!) --- militer terkuat di dunia sejauh ini, kembalinya AS sebagai kekuatan ekonomi besar, rekor investasi sebesar USD 18 triliun yang mengalir masuk ke AS dari negara lain, pasar kerja terbaik dalam sejarah AS, dengan jumlah orang yang bekerja saat ini lebih banyak daripada sebelumnya, penghentian kebijakan DEI yang dianggap merusak negara, dan begitu banyak pencapaian lain sehingga mustahil untuk disebutkan semuanya dengan cepat. Bahkan, Presiden Xi memberi selamat kepada saya atas begitu banyak keberhasilan besar dalam waktu yang sangat singkat. Dua tahun lalu, memang benar kita adalah negara yang sedang mengalami kemunduran. Dalam hal itu, saya sepenuhnya setuju dengan Presiden Xi! Namun sekarang, AS adalah negara paling bersinar di dunia dan semoga hubungan kami dengan Tiongkok akan menjadi lebih kuat dan lebih baik daripada sebelumnya!
Trump dan Xi dijadwalkan untuk bertemu kembali pada hari ini, yang juga menandai berakhirnya kunjungan kenegaraan selama dua hari. Kunjungan ini menjadi momen penting, karena merupakan kali pertama seorang presiden AS mengunjungi China sejak tahun 2017, di mana Trump juga adalah presiden terakhir yang melakukannya.
Trump berharap kedatangannya ke Beijing dapat menghasilkan capaian nyata yang dapat membantu meningkatkan tingkat persetujuannya menjelang pemilu paruh waktu yang sangat krusial.
Keinginan Bersama Membuka Selat Hormuz
Pada hari Kamis (14/5), pihak AS memberikan ringkasan singkat mengenai hasil pembicaraan antara kedua pemimpin. Dalam ringkasan tersebut, Gedung Putih menekankan adanya keinginan bersama untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Selain itu, terdapat ketertarikan dari Xi Jinping untuk membeli minyak dari AS, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Presiden Trump menyatakan kepada Sean Hannity dari Fox News bahwa China telah setuju untuk memesan 200 pesawat Boeing. Namun, jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan perkiraan pasar yang mengharapkan penjualan mencapai 500 pesawat atau lebih. Sebelumnya, beberapa laporan media juga menyebutkan bahwa Boeing hampir mencapai kesepakatan untuk menjual lebih dari 500 pesawat kepada China. Akibat pernyataan Trump yang disiarkan, saham Boeing dilaporkan mengalami penurunan lebih dari 4 persen.