Banjir Pakaian Impor China dan Senjakala Industri Tekstil Indonesia
Dalam beberapa tahun belakangan pakaian impor China membanjiri pasar hingga menyebabkan industri tekstil Tanah Air terpukul.
Deretan toko pakaian di pusat grosir Tanah Abang, Jakarta Pusat menjadi saksi bagaimana industri tekstil di tanah air tengah mengalami pukulan berat.
Berbagai jenis pakaian impor dari China memenuhi banyak gerai di pasar grosir pakaian terbesar di Asia Tenggara itu.
Di Blok A lantai 6 Pasar Tanah Abang sejumlah toko menjual pakaian impor dari China lebih murah dari buatan lokal. Sebuah toko menjual pakaian kaos pria asal impor dari China dengan harga di kisaran Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Produk serupa buatan lokal dihargai lebih mahal yakni Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per kaos.
Pedagang di sana mengatakan konsumen lebih memilih pakaian impor karena harga dan kualitasnya yang lebih baik.
Kondisi ini sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Gelombang PHK Datang
Selama 22 tahun bekerja sebagai buruh jahit di PT Masterindo Jaya Abadi, Kota Bandung, Siti Aisyah tak pernah membayangkan akan datang suatu hari ketika dia mendadak di-PHK bersama sekitar 1.142 buruh lainnya.
"Hari itu saya sedang kerja, tiba-tiba mendapat pengumuman PHK," kata perempuan berusia setengah abad itu di penghujung April 2021 lalu.
Kabar yang sampai ke telinga Siti, perusahaan konon akan bangkrut karena dihantam pandemi Covid-19. Perusahaan tak sanggup membayar upah pekerja dan PHK massal pun terjadi.
Apa yang dialami Siti hanya secuil cerita dari ribuan pegawai tekstil yang bernasib serupa.
Banjirnya pakaian impor China dan masa pandemi menjadi sejumlah alasan ambruknya industri tekstil di Tanah Air.
Penyebab Banjirnya Impor Pakaian China
China adalah produsen tekstil terbesar dunia dengan kapasitas produksi massif. Pasca pandemi, industri China kembali beroperasi penuh namun pasar ekspor global lesu akibat perang dagang Amerika Serikat-China. China mengalami overcapacity.
Di tengah perang dagang AS dengan China, produk-produk yang sulit masuk ke AS akibat tarif tinggi, akan mencari pasar baru di Indonesia. Negara-negara Barat juga mengurangi permintaan produk China, memaksa eksportir mencari pasar alternatif. Indonesia menjadi tujuan utama karena lemahnya hambatan perdagangan (trade barrier).
Platform digital seperti Shopee, TikTok Shop, dan Lazada memudahkan masuknya produk China langsung ke konsumen Indonesia tanpa melewati jalur distribusi konvensional.
Berdasarkan riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), hampir 90 persen dari 400 perusahaan e-commerce di Indonesia dikuasai oleh produk impor. Padahal, perputaran uang yang beredar di pasar e-commerce Indonesia bisa mencapai Rp300 triliun.
Permendag No 8/2024
Tak hanya itu, peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag No. 8/2024 yang menghapus persyaratan Pertimbangan Teknis (Pertek) menyebabkan lebih dari 10.000 kontainer pakaian impor China membanjiri pasar lokal. Kebijakan ini dinilai memperburuk kondisi industri tekstil yang sudah lemah.
Aturan baru ini melonggarkan larangan dan/atau pembatasan impor terhadap 18 komoditas manufaktur, termasuk barang tekstil jadi dan aksesorinya. Kebijakan ini sudah berlaku sejak 17 Mei 2024.
Direktur Impor Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Arif Sutiyoso, menjelaskan bahwa relaksasi ini dilakukan karena banyak pelaku industri mengeluhkan kesulitan impor akibat regulasi pertimbangan teknis yang tertahan di Kementerian Perindustrian.
Dengan regulasi baru ini, persyaratan pertimbangan teknis atau pertek tidak lagi diperlukan untuk 18 komoditas tersebut, yang mencakup produk hewan olahan, produk kehutanan, besi dan baja, ban, keramik, kaca, makanan dan minuman, obat tradisional, kosmetik, mainan, tas, pakaian jadi, alas kaki, elektronik, bahan berbahaya, dan katup.
Melemahkan Perlindungan Industri Tekstil
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmadja mengatakan, China menjadi ancaman terbesar bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri. Menurutnya, China kerap menjual produk ke luar negeri dengan harga lebih murah dibandingkan harga di negaranya sendiri. Praktik ini dikenal sebagai dumping.
“Bukan hanya industri TPT Indonesia yang khawatir. Negara lain juga takut dengan China karena mereka merupakan raksasa tekstil dunia dan menguasai sekitar 70 persen produksi TPT global, mulai dari bahan baku hingga produk jadi,” kata Jemmy.
Jemmy menilai pemerintah justru melemahkan perlindungan terhadap industri tekstil dalam negeri dari serbuan produk murah China. Ia mengatakan pemerintah tidak lagi menerapkan bea masuk antidumping (BMAD) untuk produk tekstil impor setelah terbit perubahan kedua Permendag No. 36/2023, yang kemudian dilanjutkan dengan Permendag No. 7/2024 dan Permendag No. 8/2024.
“Sejak aturan itu diubah, pemerintah tidak lagi menerapkan BMAD untuk melindungi industri, terutama tekstil dan produk tekstil,” kata Jemmy.
Akibatnya, produk tekstil asal China yang masuk ke Indonesia kini bisa dikenakan tarif impor nol persen atau zero duty dan hanya dikenai pajak pertambahan nilai (PPN). Sementara itu, barang yang masuk melalui jasa titip (jastip) bahkan disebut tidak dikenai PPN.
Kebijakan China
Dari sisi China, pemerintah mereka diketahui memberikan berbagai bentuk subsidi dan insentif kepada pengusaha mereka, termasuk di sektor tekstil dan pakaian jadi, yang diekspor ke negara-negara lain termasuk Indonesia.
Hal ini merupakan bagian dari strategi industri dan ekspor China untuk meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global.
Berikut poin-poin penting terkait subsidi tersebut berdasarkan data tahun 2023-2026:
Insentif Pajak (Export VAT Rebate): Perusahaan China yang mengekspor produk pakaian jadi ke luar negeri, termasuk ke Indonesia, mendapatkan fasilitas pengembalian pajak pertambahan nilai (VAT) sebesar 9% hingga 17%.
Subsidi Operasional: Pengusaha tekstil di China seringkali menerima subsidi langsung dari pemerintah berupa bantuan biaya air dan listrik yang mencapai hingga 30%, yang menurunkan biaya produksi secara signifikan.Dukungan
Infrastruktur & Biaya: Pemerintah China menyediakan infrastruktur logistik yang efisien dan akses sumber daya dengan harga lebih rendah, membuat produk akhir lebih murah saat masuk ke pasar Indonesia.
Dampak pada Industri Indonesia: Subsidi ekspor ini menyebabkan harga produk pakaian jadi China di Indonesia sangat murah dan kompetitif, yang mengancam industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) dalam negeri.
Selain berbagai faktor di atas, perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China juga memberikan tarif nol atau sangat rendah untuk berbagai produk tekstil dan pakaian jadi dari China ke Indonesia.
Serangkaian faktor itulah yang menjadi penyebab pakaian impor China membanjiri pasar di Indonesia.
Data Impor Pakaian Jadi dan Analisis
Data BPS
BPS mencatat impor pakaian jadi dengan kode HS 611780 dan 611790 dari China periode 2015-2024 secara umum menunjukkan ada peningkatan.
Fase Pertumbuhan Awal
Periode 2015–2018 menunjukkan pertumbuhan sangat agresif — nilai impor melonjak dari $320 ribu menjadi $2,25 juta, atau naik ~603% dalam 3 tahun. Ini mencerminkan ekspansi pasar aksesori pakaian rajut secara signifikan.
Koreksi Tajam 2019–2020
Impor turun dari puncak $2,25 juta (2018) menjadi $1,21 juta (2020), penurunan kumulatif ~46%. Kombinasi perang dagang AS-China pada 2019 dan pandemi COVID-19 di 2020 menekan volume impor secara drastis.
Pemulihan & Boom 2021–2022
Pasca-pandemi, impor pulih kuat — mencapai $1,92 juta di 2022, mendekati level pre-pandemi. Normalisasi rantai pasok global dan pemulihan ekonomi domestik menjadi pendorong utama kenaikan ini.
Stabilisasi 2023–2024
Nilai impor di 2023 dan 2024 relatif stabil di kisaran $1,44–$1,46 juta, turun ~24% dari puncak 2022. Ini menandai fase konsolidasi — bukan penurunan tajam, melainkan normalisasi permintaan pasar.
Dominasi Asal China
Seluruh data mengkonfirmasi dominasi absolut China sebagai pemasok aksesori pakaian rajut ke Indonesia. Ini konsisten dengan pola impor tekstil dan garmen Indonesia secara umum.
Tren volume tahunan
Volume impor tumbuh sangat pesat dari hanya 320 ribu kg pada 2015 hingga mencapai puncaknya di 2018 dengan 2,25 juta kg — lonjakan hampir 7× dalam 3 tahun. Setelah 2019 volume turun ke 1,73 juta kg, lalu sempat tertekan lagi di 2020 (1,21 juta kg) kemungkinan dampak pandemi. Volume rebound ke 1,73–1,92 juta kg pada 2021–2022, kemudian kembali melemah ke kisaran 1,44–1,46 juta kg pada 2023–2024.
Data UN Comtrade
Data ekspor pakaian jadi dari Negeri Tirai Bambu ke Indonesia yang dicatat UN Comtrade pada periode yang sama juga mengalami peningkatan.
Tren nilai impor menunjukkan kenaikan signifikan dari $5,86 juta (2015) ke puncaknya $16,99 juta (2023), lalu sedikit turun ke $16,12 juta di 2024. Secara keseluruhan, nilai impor tumbuh +175% dalam 10 tahun — pertumbuhan yang sangat kuat untuk komoditas aksesori pakaian.
Volume impor juga naik secara umum, dari sekitar 1,06 juta kg (2015) menjadi 2,40 juta kg (2024). Tapi ada anomali menarik di 2016: volume anjlok drastis ke hanya 236 ribu kg — terendah sepanjang periode — meski nilai justru naik ke $8,52 juta. Ini kemungkinan disebabkan oleh perubahan campuran produk ke barang yang lebih bernilai tinggi per kg, atau ada perubahan metode pelaporan data Comtrade.
Data BPS mencatat impor resmi, sementara data ITC/Comtrade mencatat ekspor China ke RI. Gap antara keduanya mencerminkan impor ilegal. Sejak 2004, gap ini terus ada, dan memuncak di 2022 mencapai US$2,9 miliar setara 28.480 kontainer per tahun.
Impor tekstil sempat turun pada 2020 akibat pandemi, namun kembali melonjak 2021–2024. Kapasitas produksi China yang kelebihan (over-capacity) pasca pandemi mendorong dumping produk ke Indonesia dengan harga sangat murah.
Impor ilegal terjadi selama 20+ tahun. Rendahnya harga produk ilegal (tidak bayar bea masuk & pajak) membuat produk lokal tidak mampu bersaing. APSyFI memperkirakan kerugian negara mencapai Rp46 triliun dalam 5 tahun terakhir.
China Kuasai Pasar Busana Muslim
Data BPS menunjukkan China menguasai pasar impor sebesar 40,74% pada 2014. Cakupan pasar oleh China sempat mencapai puncaknya 62,6% pada 2020. Pada 2022, cakupan China turun menjadi 49,5%, seperti dikutip dari Katadata.
Pada November 2024 China menguasai pasar impor pakaian jadi dengan kontribusi mencapai 42,69% disusul Vietnam dan Bangladesh dengan kontribusi masing-masing sebesar 10,48% dan 8,95%.
Bahkan pasar busana muslim di Indonesia yang nilainya mencapai Rp289 triliun sangat didominasi produk impor China, dengan perkiraan mencapai 90%-99% dari total pasar. Dominasi ini mencakup berbagai jenis pakaian muslim, termasuk grosir impor yang banyak ditemukan di pusat perbelanjaan seperti Tanah Abang.
Dampak ke Industri Tekstil di Indonesia
Mengutip Swa.co.id, data Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menunjukkan sekitar 60 perusahaan tekstil tutup dalam periode 2022 hingga 2024.
Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, mengatakan sebagian besar penutupan terjadi sepanjang 2024. Menurutnya, perusahaan yang berhenti beroperasi berasal dari sektor menengah hingga hilir industri tekstil.
“Sekitar 60 perusahaan tekstil sudah tutup dan akhirnya sekitar 250 ribu pekerja terkena PHK,” kata Redma dalam keterangan tertulis, Rabu (18/12/2024).
Redma menilai kondisi ini dipicu oleh meningkatnya impor ilegal yang masuk ke pasar domestik tanpa pengawasan ketat dari pemerintah. Menurutnya, situasi tersebut semakin memperburuk industri tekstil nasional yang dalam 10 tahun terakhir sudah mengalami deindustrialisasi.
Menurut Plt Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Reni Yanita, sejumlah perusahaan terpaksa melakukan PHK pegawai, dengan jumlah yang bervariasi, mulai dari 500 orang hingga 8.000 orang. Beberapa di antaranya adalah Sritex, PT S Dupantex, PT Alenatex, PT Kusumahadi Santosa, PT Kusumaputra Santosa, PT Pamor Spinning Mills, dan PT Sai Apparel.
Ribuan pegawai tekstil yang terkena PHK seperti Siti bukanlah sekadar angka di atas kertas. Mereka kini harus bertahan hidup dengan cara apa pun.
Setelah di-PHK, sebagai perempuan yang turut jadi tulang punggung keluarga, Siti berusaha bertahan dengan membuka warung rumahan dengan modal seadanya.
“Saya buka warung di rumah. Saya punya dua anak, satu sudah lulus sekolah satu lagi masih kelas 3 SMA. Suami saya kerja dekorasi-dekorasi gitu,” ungkapnya.
Siti mungkin tidak tahu, seragam sekolah murah yang dipakai anaknya selama ini kemungkinan besar juga berasal dari negeri yang sama yang menutup tempat kerjanya.