Bandung Bergemuruh, Puncak Kirab Mahkota Binokasih Disambut Meriah
Sebelum tiba di ibu kota provinsi, mahkota peninggalan leluhur Sunda tersebut lebih dulu diarak melintasi sejumlah daerah, mulai dari Ciamis, Tasikmalaya.
Rangkaian Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran dalam rangka Milangkala Tatar Sunda resmi berakhir di Kota Bandung. Kirab yang mengarak pusaka Mahkota Binokasih itu sebelumnya memulai perjalanan dari Kabupaten Sumedang pada Minggu (3/5), menandai upaya pelestarian sejarah dan budaya Sunda yang mendapat antusiasme masyarakat di setiap daerah yang dilalui.
Sebelum tiba di ibu kota provinsi, mahkota peninggalan leluhur Sunda tersebut lebih dulu diarak melintasi sejumlah daerah, mulai dari Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor, Karawang, Depok, hingga Kabupaten Cirebon.
Di Kota Bandung, puncak kirab budaya mengambil titik mula di Kiara Artha Park pada pukul 19.30 WIB. Menariknya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tampil memukau dengan pakaian serba putih sambil menunggangi kuda putih. Ia memimpin rombongan menyusuri rute Jalan Jakarta hingga Jalan Supratman.
Menyapa Warga
Sepanjang jalan, Dedi tampak ramah melambaikan tangan menyapa ribuan warga yang antusias memadati sisi kiri dan kanan jalan. Tepat di belakang sang gubernur, iring-iringan kereta kencana melaju perlahan.
Kemeriahan dilanjutkan dengan parade budaya yang mewakili 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Tak hanya itu, kirab ini juga dimeriahkan oleh kehadiran delegasi budaya dari provinsi lain, mulai dari Bali, Aceh, Jakarta, Yogyakarta, hingga Brebes.
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam rombongan tersebut. Di antaranya Raja Karaton Sumedang Larang Paduka Yang Mulia Sri Radya HRI Lukman Soemadisoeria, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, dan Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian.
Unjuk Kebolehan
Setibanya rombongan di halaman Gedung Sate, setiap perwakilan daerah unjuk kebolehan menampilkan kesenian khas masing-masing. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, salah satunya Ida Rosilawati (45), warga asal Antapani.
"Rame ya, semoga tiap tahunnya ada kayak gini," kata Ida saat menyaksikan penampilan budaya tersebut.
Hal senada diungkapkan Aep Saepulloh (37), warga asal Cimahi. Ia rela berdesakan bersama istri dan anaknya demi melihat langsung semarak budaya dan sosok Gubernur Jabar. Dia berharap kegiatan serupa bisa menjadi agenda rutin tiap tahun.
"Saya lihat banyak (penampilan budaya), ada Pak Dedi. Ke sini sama istri dan anak. Saya sengaja pengen lihat gubernur kita," ucap Aep penuh semangat.
Sangat Istimewa
Kepala BKD Jabar yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda, Dedi Supandi, menyebut acara ini sangat istimewa dan layak ditonton. Pasalnya, tak hanya budaya Sunda yang ditonjolkan, melainkan juga keberagaman nusantara.
"Beberapa perwakilan dari luar Jabar juga hadir, seperti dari Aceh, DKI Jakarta, Surakarta, Jogjakarta, Ponorogo, hingga Tegal dan Brebes," ujar Dedi Supandi.
Terkait prosesi kirab, ia memastikan bahwa Mahkota Binokasih yang diarak keliling Jabar adalah pusaka asli yang menjadi bukti kekayaan sejarah budaya Sunda, bukan sekadar tiruan.
"Itu asli, bukan replika. Meskipun di Sumedang ada replikanya, tetapi yang ini 100 persen asli," tegasnya.
Rangkaian perayaan Milangkala Tatar Sunda ini belum usai. Dedi menambahkan, acara akan berlanjut pada Minggu (17/5) mendatang dengan agenda 'Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda' yang akan menyuguhkan pertunjukan kebudayaan kolosal di halaman Gedung Sate.