Kirab Budaya Cirebon: Jembatan Sejarah Masa Lalu untuk Masa Depan Jawa Barat

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menegaskan Kirab Budaya Cirebon Mahkota Binokasih bukan sekadar seremonial, melainkan upaya krusial menghubungkan masa lalu dengan masa depan, serta membangun karakter bangsa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kirab Budaya Cirebon: Jembatan Sejarah Masa Lalu untuk Masa Depan Jawa Barat
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menegaskan Kirab Budaya Cirebon Mahkota Binokasih bukan sekadar seremonial, melainkan upaya krusial menghubungkan masa lalu dengan masa depan, serta membangun karakter bangsa. (AntaraNews)

Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran yang diselenggarakan di Kota Cirebon menjadi sorotan utama, Minggu malam. Kegiatan ini secara khusus dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Dalam sambutannya di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan Cirebon, Dedi Mulyadi menekankan bahwa inti dari kirab ini bukan hanya menceritakan masa lalu. Lebih dari itu, acara ini bertujuan untuk membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Menurutnya, masyarakat tidak dapat hanya fokus pada masa depan tanpa memahami akar sejarah dan filosofi budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Oleh karena itu, Kirab Budaya Cirebon ini dianggap sebagai kegiatan yang berorientasi ke masa depan, bukan sekadar seremonial atau historis.

Memahami Sejarah sebagai Fondasi Pembangunan

Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa sejarah memegang peranan krusial dalam pembentukan karakter bangsa dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan zaman. Ia menekankan bahwa tanpa pemahaman mendalam terhadap sejarah, pembangunan masa depan akan kehilangan arah dan makna.

Provinsi Jawa Barat, katanya, kaya akan warisan budaya yang masih lestari, terlihat dari keberadaan keraton, tradisi masyarakat, hingga peninggalan Kerajaan Pajajaran. Mahkota Binokasih dan berbagai situs sejarah menjadi bukti nyata eksistensi Pajajaran sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah yang terus hidup.

Dedi Mulyadi dengan tegas menyatakan, “Pajajaran itu memang ada dan tidak akan pernah pudar dimakan oleh zaman.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya melestarikan dan memahami jejak-jejak peradaban masa lalu sebagai landasan kuat bagi generasi mendatang.

Cirebon: Miniatur Pluralisme dan Pusat Budaya Inklusif

Dalam kesempatan yang sama, Dedi Mulyadi menyoroti Cirebon sebagai daerah yang berhasil memadukan nilai-nilai agama, budaya, dan sejarah secara harmonis. Kehidupan masyarakat di Cirebon mencerminkan keterbukaan budaya yang telah diwariskan oleh para wali dan keraton sejak masa lampau.

Berbagai warisan budaya dan tradisi keagamaan di Cirebon masih bertahan hingga kini, seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan tradisi Adzan Pitu. Hal ini menunjukkan kekayaan dan kedalaman budaya Cirebon yang patut dilestarikan.

Dedi Mulyadi menggambarkan Cirebon sebagai “mini pluralisme Indonesia” yang mengajarkan tentang Islam inklusif. Pandangan ini menyoroti bagaimana Cirebon menjadi contoh nyata toleransi dan keberagaman yang hidup berdampingan.

Visi Penataan Kawasan Budaya Cirebon untuk Masa Depan

Menatap ke depan, Gubernur Dedi Mulyadi telah menyiapkan rencana komprehensif untuk menata kawasan budaya di sekitar keraton Cirebon. Penataan ini bertujuan agar area tersebut menjadi lebih bersih, tertata rapi, dan memiliki daya tarik wisata sejarah yang lebih kuat.

Rencana tersebut mencakup peningkatan kebersihan, penataan trotoar yang indah, serta penjernihan sungai-sungai. Dedi Mulyadi membayangkan bahwa jika keraton tertata rapi dan lingkungan sekitarnya bersih, peradaban akan kembali terbangun.

Ia menambahkan, “Kalau keraton ini tertata rapi, jalan-jalannya bersih, trotoarnya terbentang indah, sungai-sungainya jernih, kemudian antara sungai dengan keraton tersambung lagi dengan laut maka peradaban akan terbangun.” Visi ini menunjukkan komitmen untuk menjadikan Cirebon sebagai pusat peradaban yang berakar pada sejarah dan berorientasi pada kemajuan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi