Nilai Tukar Rupiah Makin Loyo ke Level Rp16.724, Ternyata Ini Penyebabnya
Sedangkan untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.720 - Rp16.760.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat, nilai tukar Rupiah kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan sore ini. Rupiah melemah 30 poin menyentuh level Rp16.724.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 30 poin ke level 16.724 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.694," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (12/11).
Sedangkan untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.720 - Rp16.760.
Adapun faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah di antaranya, keraguan atas rencana Federal Reserve untuk memangkas suku bunga lebih lanjut, dan ini membebani emas, karena dolar menemukan pijakannya di perdagangan Asia.
"Pasar juga mencermati pemeriksaan Mahkamah Agung atas tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump, meskipun putusan tampaknya tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat," ujarnya.
Di sisi lain, DPR AS akan melakukan pemungutan suara untuk mengakhiri penutupan pemerintah setelah Senat AS menyetujui langkah yang bertujuan untuk membuka pengeluaran pemerintah dan mengakhiri penutupan pemerintah terlama yang pernah ada.
RUU tersebut sekarang akan dibawa ke DPR untuk persetujuan lebih lanjut, dengan badan yang dikendalikan Partai Republik tersebut telah mengisyaratkan akan menyetujui RUU tersebut pada hari Rabu.
Setelah ini, RUU tersebut akan diserahkan kepada Trump untuk ditandatangani menjadi undang-undang. Berakhirnya penutupan pemerintah akan membuka pintu bagi lebih banyak rilis data ekonomi resmi, yang pada gilirannya dapat membantu meredakan ketidakpastian atas perekonomian.
Faktor Lainnya
Selain itu, Mahkamah Agung yang mengkritik tarif perdagangan Trump. Nick Timiraos dari The Wall Street Journal mengatakan terdapat perpecahan yang semakin besar di antara para pembuat kebijakan Federal Reserve mengenai apakah akan memangkas suku bunga pada bulan Desember, dengan penundaan pembacaan ekonomi untuk bulan September dan Oktober yang menambah ketegangan ini.
"Para pedagang selanjutnya akan mencermati pidato beberapa pejabat The Fed hari ini. John Williams, Anna Paulson, Christopher Waller, Raphael Bostic, Stephen Miran, dan Susan Collins dari The Fed dijadwalkan akan berbicara dalam berbagai forum yang mereka hadiri," ujarnya.
Faktor Internal
Sementara itu di dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah di antaranya, proyeksi Bank Indonesia (BI) terkait pertumbuhan ekonomi mencapai 5,33 persen pada 2026. Proyeksi tersebut di bawah target yang telah ditetapkan pemerintah dan DPR yaitu sebesar 5,4 persen.
Prakiraan pertumbuhan 5,33 eprsen pada tahun depan itu berdasarkan perkembangan ekonomi global maupun domestik. Proyeksi tersebut di bawah target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 5,4 persen.
"Target pemerintah juga realistis, namun tergantung kecepatan realisasi belanja stimulasi fiskal ke depan. Sementara untuk ekonomi domestik, BI turut mempertimbangkan rencana dukungan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan lewat penurunan suku bunga hingga ekspansi likuiditas moneter dan makroprudensial," ujarnya.
Sementara itu, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,9 eprsen pada 2026, jauh lebih rendah dari target pemerintah maupun BI.