Konflik Iran dan AS Tekan Rupiah ke Level Rp16.886
Rupiah melemah ke Rp16.886 per dolar AS dipicu konflik Iran, gangguan Selat Hormuz, serta kekhawatiran pasar terhadap data inflasi AS dan kredibilitas fiskal.
Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (11/3/2026). Mata uang Indonesia tersebut ditutup melemah ke level Rp16.886 per dolar Amerika Serikat.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah pada sesi perdagangan sore melemah sekitar 23 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 23 point sebelumnya sempat menguat 12 point dilevel Rp 16.886 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.862," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Konflik Timur Tengah Guncang Pasar Energi
Ibrahim menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh gejolak di pasar energi global setelah Iran mulai memblokir Selat Hormuz. Langkah tersebut disebut sebagai respons terhadap serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Teheran menyatakan akan terus menargetkan kapal-kapal di jalur tersebut hingga konflik dengan Republik Islam Iran dihentikan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran hampir berakhir. Namun pernyataan tersebut dibantah oleh pemerintah Iran yang menegaskan bahwa pihaknya akan menentukan sendiri kapan perang akan berakhir.
Selat Hormuz diketahui menjadi salah satu jalur pengiriman utama minyak dan gas dunia menuju kawasan Asia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu gangguan pasokan energi global.
Data Ekonomi AS dan Sorotan Fiskal Indonesia
Selain ketegangan geopolitik, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat untuk Februari yang diukur melalui indeks harga konsumen (CPI).
Menurut perkiraan pasar, inflasi utama diproyeksikan berada di level 2,4 persen secara tahunan, sementara inflasi inti diperkirakan berada di angka 2,5 persen.
"Meskipun angka tersebut kemungkinan tidak akan mencerminkan lonjakan harga energi setelah perang Iran, angka tersebut tetap akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pengeluaran konsumen dan kesehatan ekonomi secara keseluruhan," ujarnya.
Ibrahim menambahkan bahwa data inflasi tersebut muncul setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Februari menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan pasar.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi sorotan terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings menyoroti kinerja penerimaan pajak Indonesia.
"Menariknya, dari 3 lembaga tersebut, hanya S&P yang masih mempertahankan prospek atau outlook stabil. Dua lainnya yaitu Moody's dan Fitch telah menurunkan outlook dari stabil ke negatif," ujarnya.
Ia menilai kekhawatiran pasar muncul karena kinerja penerimaan pajak dinilai belum sejalan dengan kebutuhan belanja negara.
Ibrahim juga mencontohkan pelebaran defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari target awal sebesar 2,53 persen.
Menurutnya, realisasi penerimaan pajak pada 2025 tercatat Rp1.917,6 triliun atau sekitar 87,6 persen dari target pemerintah.
Selain lembaga pemeringkat global, Bank Dunia juga menyoroti kinerja penerimaan pajak Indonesia dalam laporan Country Program Evaluation Report periode fiskal 2013–2023.
Bank Dunia menilai rasio pajak Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara anggota G20. Pada 2025, rasio pajak Indonesia tercatat sekitar 9,31 persen terhadap PDB.