Pergerakan Rupiah Sepekan Terakhir, Merangkak Naik Mulai Rp17.388 Kini Sentuh Rp17.600 di Akhir Pekan
Sejak Senin, 11 Mei 2026. Nilai tukar rupiah di pasar spot exchange melemah 6 poin (0,03%) ke level Rp17.388 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin tertekan. Pada hari Jumat, (15/5), rupiah mencapai posisi Rp17.600 per dolar AS.
Berdasarkan data dari Google Finance pada Jumat pagi, rupiah sempat menyentuh angka Rp17.612 per dolar AS, kemudian bergerak di kisaran Rp17.579.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini disinyalir masih dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global. Ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran di Timur Tengah terus memperkuat indeks dolar AS
Ternyata, pelemahan nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar AS (USD) sudah terjadi sejak Senin, 11 Mei 2026. Nilai tukar rupiah di pasar spot exchange melemah 6 poin (0,03%) ke level Rp17.388 per dolar AS. Sementara itu, dolar AS menguat 0,17% ke level 98.963.
Kemudian pada Selasa, 12 Mei 2026, rupiah bergerak melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.483 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.414 per dolar AS. Namun pada pukul 10.20 Wib, kurs rupiah telah menembus Rp17.510 per USD berdasarkan data wise.com.
Pada Rabu, 13 Mei 2026 nilai tukar rupiah sempat menguat tipis terhadap dolar AS. Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah berkutat di atas Rp17.500 per dolar AS.
Dikutip dari Antara, pada Rabu (13/5), kurs rupiah bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.515 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.529 per dolar AS.
Selanjutnya, nilai tukar rupiah pun kembali menembus level terendah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (14/5). Karena, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.529 per dolar AS atau melemah 0,30% dibandingkan posisi Rabu (13/5) di Rp17.476 per dolar AS.
Pelemahan Rupiah Picu Kenaikan Harga
Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS terus menjadi sorotan utama di tengah gejolak ekonomi global. Menurut Profesor Hamid Paddu, seorang pakar ekonomi dan bisnis dari Universitas Hasanuddin, Makassar, kondisi ini memiliki dampak signifikan terhadap biaya bahan baku impor, termasuk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia.
Indonesia, yang telah menjadi net importir minyak sejak tahun 2004, sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang dan harga minyak dunia.
Minyak Dalam Negeri
Produksi minyak dalam negeri yang hanya sekitar 650 ribu barel per hari jauh di bawah kebutuhan masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari, menyebabkan lebih dari 50 persen kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.
Pada pertengahan Mei 2026, nilai tukar rupiah bahkan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS, dengan penutupan pada 14 Mei 2026 mencapai Rp17.529.
Situasi ini secara langsung meningkatkan beban biaya impor yang harus dibayar dalam valuta asing, terutama dolar AS, sehingga memengaruhi harga komoditas penting di pasar domestik.