Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Berpotensi Tertekan pada Perdagangan Senin
Adapun rupiah pada perdagangan Jumat sore (8/5) ditutup melemah 49 poin ke level Rp 17.382 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.359 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin (11/5) direntang Rp 17.380 - Rp 17.430, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta sikap agresif sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (Fed).
"Untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.380 - Rp 17.430," kata Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi kepada Media, Sabtu (9/5/2026).
Adapun rupiah pada perdagangan Jumat sore (8/5) ditutup melemah 49 poin ke level Rp 17.382 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.359 per dolar AS. Bahkan, rupiah sempat menyentuh pelemahan hingga 60 poin sepanjang perdagangan.
Menurut Ibrahim, pasar masih dibayangi perkembangan konflik antara AS dan Iran yang kembali memanas setelah sempat muncul harapan tercapainya kesepakatan damai dan pembukaan penuh Selat Hormuz.
Sebelumnya, kedua negara disebut hampir mencapai kesepakatan yang berpotensi mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali jalur vital distribusi minyak dan gas dunia tersebut. Namun, situasi kembali memanas setelah terjadi baku tembak di kawasan selat.
Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata selama sebulan terakhir, sementara pihak AS menyebut serangan dilakukan sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan laut AS yang melintas di Selat Hormuz.
Militer Iran juga mengklaim AS telah menargetkan kapal tanker minyak Iran, kapal lainnya, hingga wilayah sipil di sekitar selat dan daratan Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global.Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata masih berlaku.
Pernyataan Pejabat The Fed Dorong Dolar AS
Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyatakan suku bunga kemungkinan akan tetap stabil untuk beberapa waktu. Sementara Presiden The Fed San Francisco, Mary Daly, menegaskan komitmennya mengembalikan inflasi ke target 2%.
"Kemudian, para pejabat Federal Reserve (Fed) memberikan pernyataan yang berbeda. Beth Hammack dari Fed Cleveland menyatakan bahwa suku bunga "akan tetap stabil untuk beberapa waktu,". Mary Daly dari Fed San Francisco beralih ke sikap netral hingga agresif, mengatakan bahwa ia berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke target 2% Fed,” pungkasnya.