Rupiah Melemah ke Rp16.621, Dipengaruhi Sentimen Perdagangan AS–China
Nilai tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan Senin (27/10/2025).
Nilai tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan Senin (27/10/2025). Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat pelemahan 19 poin di level Rp16.621 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.602.
“Sebelumnya sempat melemah 35 poin di level Rp16.621 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.602,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Untuk perdagangan Selasa (28/10), Ibrahim memprediksi rupiah bergerak fluktuatif namun berakhir melemah di rentang Rp16.620–Rp16.650 per dolar AS.
Sentimen Eksternal Dominasi Tekanan
Menurut Ibrahim, sejumlah faktor global menekan pergerakan rupiah hari ini. Di antaranya perkembangan terbaru negosiasi dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.
Ia mengutip pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menyebut adanya “kerangka kerja substansial” dalam pembahasan perdagangan kedua negara.
“Bessent mengatakan kerangka kerja tersebut akan menghindari tarif AS sebesar 100% atas barang-barang Tiongkok dan mencapai penangguhan kontrol ekspor logam tanah jarang Tiongkok,” jelas Ibrahim.
Pernyataan optimistis Presiden AS Donald Trump juga menjadi sorotan pasar. Trump menyebut peluang kesepakatan dagang semakin terbuka dan akan bertemu langsung dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping baik di Beijing maupun Washington.
Selain itu, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang lebih rendah dari perkiraan turut memperkuat spekulasi penurunan suku bunga The Fed.
“Fokus minggu ini adalah keputusan suku bunga dari beberapa bank sentral dengan fokus utama pada keputusan kebijakan terbaru dari Federal Reserve,” katanya.
Faktor Internal: Pertumbuhan Ekonomi Melambat di Kuartal III
Dari dalam negeri, ekonom memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 tumbuh 4,9% secara tahunan (YoY), lebih rendah dari kuartal II yang mencapai 5,12%.
Penurunan ini dinilai dipengaruhi lemahnya permintaan domestik, tercermin dari Indeks Kepercayaan Konsumen September 2025 yang turun dibanding bulan sebelumnya.
“Peristiwa yang sempat terjadi pada akhir Agustus 2025 juga berdampak terhadap kepercayaan konsumen dalam negeri,” ujar Ibrahim, tanpa merinci peristiwa yang dimaksud.
Namun kinerja ekspor disebut masih cukup kuat di periode tersebut.
Proyeksi Kuartal IV dan 2026
Ibrahim memprediksi perekonomian akan kembali meningkat pada kuartal IV-2025 didukung belanja pemerintah yang lebih tinggi dan penyaluran Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai stimulus ekonomi.
“Dalam tahun 2025 ekonomi nasional diproyeksikan akan tumbuh sebesar 5%. Dan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan pulih tahun depan di atas 5%,” jelasnya.
Optimisme ini sejalan dengan kondisi global yang dinilai membaik dari sisi ketegangan dagang dan sentimen geopolitik.
Ibrahim juga menyinggung laporan OECD yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,9%, dibandingkan perkiraan Juni 2025 sebesar 4,7%. Hal ini didorong oleh pelonggaran kebijakan moneter dan percepatan investasi.