ULM Temukan 14 Spesies Mangrove di Kotabaru, Perkuat Konservasi Lingkungan Pesisir
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhasil mengidentifikasi 14 spesies mangrove di kawasan PBPH Kotabaru, Kalimantan Selatan, menandakan kekayaan hayati dan potensi konservasi lingkungan pesisir.
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Unit Penunjang Akademik (UPA) Lingkungan Lahan Basah berhasil mengidentifikasi kekayaan hayati di kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penemuan ini mencakup 14 spesies mangrove yang beragam, menunjukkan potensi besar bagi konservasi ekosistem pesisir.
Identifikasi spesies mangrove ini dilakukan saat kegiatan survei keanekaragaman hayati di area kelola ULM. Hasilnya, kawasan tersebut memiliki ekosistem yang relatif stabil dan mendukung regenerasi alami mangrove.
Wakil Rektor ULM Bidang Kerjasama, Humas dan Sistem Informasi, Dr. Yusuf Azis, menjelaskan bahwa temuan ini menjadi dasar penting. Data ilmiah ini akan mendukung pengelolaan kawasan berbasis konservasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat.
Keanekaragaman Spesies Mangrove di Kotabaru
Dalam kegiatan identifikasi keanekaragaman hayati mangrove, ULM berhasil mencatat 14 jenis spesies utama. Spesies-spesies ini termasuk acrostichum aureum (paku laut), avicennia officinalis (api-api ludat), dan terminalia catappa (ketapang). Ada pula bruguiera cylindrica (tanjung), ceriops decandra (tengar), serta xylocarpus granatum (nyirih).
Selain itu, tim peneliti juga menemukan lumnitzera littorea (teruntum merah), lumnitzera racemosa (teruntum putih), dan nypa fruticans (nipah). Spesies lain yang teridentifikasi adalah rhizophora apiculata (bakau minyak), rhizophora mucronata (bakau hitam/bakau merah), dan rhizophora stylosa (bakau kecil). Penemuan ini dilengkapi dengan senna siamea (johar) dan sonneratia alba (pedada).
Tidak hanya spesies mangrove inti, kawasan ini juga menjadi rumah bagi enam spesies asosiasi yang tumbuh secara alami di kawasan tersebut. Keberadaan spesies asosiasi ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Kotabaru memiliki kondisi yang relatif stabil. Ini adalah indikator penting bagi kesehatan lingkungan pesisir.
Dr. Yusuf Azis menyoroti bahwa keragaman jenis ini mencerminkan struktur vegetasi yang lengkap. Mulai dari fase semai (seedling), pancang (stake), hingga pohon (tree), semuanya ditemukan. Kondisi ini menjadi bukti penting bahwa regenerasi alami mangrove berlangsung dengan baik di area tersebut.
Peran Strategis Mangrove dan Pengelolaan Berbasis Konservasi
Keanekaragaman hayati mangrove memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Ekosistem ini berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi dan dampak gelombang laut. Mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai jenis biota pesisir, mendukung rantai makanan dan keanekaragaman hayati.
Selain itu, ekosistem mangrove berkontribusi besar dalam mendukung produktivitas perairan secara keseluruhan. Keberadaannya esensial untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan. Oleh karena itu, pelestarian mangrove adalah kunci untuk kesehatan ekosistem pesisir.
Melalui identifikasi ini, ULM berharap dapat menyediakan data ilmiah yang kuat. Data ini akan menjadi dasar utama bagi pengelolaan kawasan yang berbasis konservasi. Tujuannya adalah untuk memastikan keberlanjutan ekosistem mangrove di masa depan.
Sejak pertengahan tahun 2024, ULM, melalui Koperasi Berkah Wasaka Mandiri, telah memperoleh Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Izin ini mencakup Hutan Produksi seluas 611 hektare di Kabupaten Kotabaru.
Dengan izin tersebut, ULM memiliki hak untuk mengelola kawasan hutan mangrove. Pengelolaan ini mencakup penyerapan dan penyimpanan karbon, budidaya perikanan, serta pengembangan objek rekreasi atau wisata pendidikan. Kawasan ini juga akan menjadi pusat penelitian lingkungan lahan basah.
Sumber: AntaraNews