Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp17.400 per USD, Bank Indonesia Ambil Langkah Begini
Menurut BI, Rupiah tidak melemah sendirian, melainkan nilai tukar mata uang negara tetangga seperti Philippine Peso melemah sebesar 6,58 persen.
Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menembus level Rp17.400 per USD. BI menegaskan, pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.
"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan BI, Selasa (5/5).
Menurut BI, Rupiah tidak melemah sendirian, melainkan nilai tukar mata uang negara tetangga seperti Philippine Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile Peso (-4,24 persen), Indonesia Rupiah (-3,65 persen), dan Korea Won (-2,29 persen).
Erwin mengatakan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global.
"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," pungkasnya.
Penyebab Kurs Rupiah Melemah Versi Pengamat
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan kini terus melemah menembus level Rp17.400 per dolar AS.
"Rupiah yang mengalami pelemahan sudah di atas Rp17.400. Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp17.550. Kemungkinan besar, kemungkinan akan tercapai," kata Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assu’aibi kepada Liputan6.com, Selasa (5/5).
Ia menilai, pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat.
Menurut Ibrahim, eskalasi konflik geopolitik menjadi pemicu utama. Ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah mengguncang pasar global, terutama sektor energi.
"Kita tahu bahwa sebelumnya Trump sendiri sudah menginstruksikan terhadap Angkatan Laut Amerika yang berada di Laut Oman, Laut Internasional untuk melakukan penguasaan terhadap Selat Hormuz yang sebelumnya dikuasai oleh Iran. Ini yang membuat ketegangan terbaru karena ada lebih dari lima kapal perang kecil Iran yang dibombardir dan hancur. Ini membuat ketegangan tersendiri di Timur Tengah," jelasnya.
Selain itu, konflik di Eropa Timur turut memperparah situasi. Serangan drone yang dilakukan Ukraina ke fasilitas kilang minyak Rusia disebut mengganggu produksi energi global. Dampaknya, pasokan minyak berkurang dan harga energi meningkat signifikan.
Kenaikan harga minyak ini berimbas langsung pada Indonesia sebagai negara importir. Kebutuhan dolar AS meningkat untuk memenuhi impor energi, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.
Di sisi lain, inflasi global yang meningkat mendorong bank sentral seperti Federal Reserve untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Kebijakan ini biasanya memperkuat dolar AS dan membuat mata uang negara berkembang semakin tertekan.