Rupiah Diproyeksi Bergerak Melemah Pekan Depan, Masih Dibayangi Catatan MSCI
Adapun pada perdagangan Jumat (19/6), rupiah ditutup melemah tipis 7 poin menjadi Rp17.801 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.794 per USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin (22/6). Rupiah diperkirakan ditutup di kisaran Rp17.800 - Rp17.850 per dolar AS, sementara pergerakan selama sepekan diprediksi berada pada rentang Rp17.500-Rp18.000 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah diproyeksikan untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.800 - Rp 17.850. Rupiah untuk sepekan Rp17.500 - Rp18.000," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Sabtu (20/6).
Adapun pada perdagangan Jumat (19/6), rupiah ditutup melemah tipis 7 poin menjadi Rp17.801 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.794 per USD. Sepanjang perdagangan, mata uang rupiah bahkan sempat tertekan hingga 55 poin sebelum memangkas pelemahannya menjelang penutupan.
"Pada perdagangan Jumat (19/6) mata uang rupiah ditutup melemah tipis 7 point sebelumnya sempat melemah 55 point dilevel Rp17.801 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.794," ujarnya.
Sentimen Global Masih Dominan
Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen global. Salah satunya adalah membaiknya kondisi geopolitik setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri konflik serta memulihkan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan pasokan minyak global kembali normal setelah sempat terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Prospek meningkatnya ekspor minyak Iran juga mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak hingga di atas USD 120 per barel.
Meski demikian, pasar masih mencermati perkembangan terbaru setelah Israel kembali melancarkan serangan udara pada Kamis (18/6), yang memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan damai tersebut.
Catatan MSCI Tambah Tekanan
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada laporan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria arus informasi (information flow) dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review.
"Penurunan peringkat ini mencerminkan minimnya transparansi pada data kepemilikan saham dan aktivitas pasar. Kondisi tersebut dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat," ujarnya.
Selain isu transparansi, MSCI juga menyoroti keterbatasan pada pasar valuta asing yang kerap menjadi hambatan bagi para investor. "Tidak ada pasar mata uang lepas pantai (offshore) yang efisien, dan terdapat berbagai batasan pada pasar mata uang domestik (onshore) di Indonesia," ungkap riset MSCI.
MSCI juga menambahkan bahwa tingkat liberalisasi valuta asing di Indonesia masih sangat terbatas. Namun, MSCI mengumumkan posisi Indonesia masih berada di level negara berkembang atau Emerging Market, karena Indonesia mendapat sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.