Tekanan Global Mereda, Rupiah Diprediksi Tutup Menguat Hari Ini
Pengamat memproyeksikan rupiah ditutup menguat di kisaran Rp16.750–Rp16.900, dipengaruhi ketegangan geopolitik global dan kebijakan moneter AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah akan ditutup menguat meski bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, Selasa (27/1/2026).
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 16.750–Rp 16.900,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (27/1).
Pada perdagangan sebelumnya, Senin (26/1/2026), rupiah tercatat menguat 38 poin dan ditutup di level Rp16.782 per dolar AS, setelah sempat menguat hingga 50 poin. Penguatan itu terjadi dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.820 per dolar AS.
Tekanan Geopolitik dan Arah Kebijakan The Fed
Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan sekutu NATO terkait isu Greenland. Retorika Presiden AS Donald Trump mengenai kepentingan strategis Amerika di wilayah Arktik dinilai memperburuk hubungan transatlantik dan mengguncang pasar global.
Situasi tersebut diperparah oleh meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada. Trump disebut mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang Kanada jika negara itu melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.
Trump juga menuliskan di media sosial bahwa Kanada berpotensi menjadi jalur transit barang China ke Amerika Serikat, serta memperingatkan bahwa Beijing akan “memakan Kanada hidup-hidup” apabila kerja sama dagang itu berlanjut.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar global saat ini menantikan hasil rapat Federal Reserve yang dijadwalkan berakhir pada Rabu waktu setempat. Investor secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya.
“Meskipun jeda kenaikan suku bunga sebagian besar sudah diperhitungkan, investor akan mencermati pernyataan The Fed dan komentar Ketua Jerome Powell untuk mencari petunjuk tentang waktu dan laju potensi penurunan suku bunga di akhir tahun ini,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan, pasar juga mencermati rencana Presiden Trump yang menyebut telah menentukan kandidat Ketua Federal Reserve berikutnya, dengan pengumuman resmi diperkirakan dilakukan sebelum akhir Januari.
“Pasar tetap waspada bahwa pilihan Presiden Trump untuk Ketua Fed berikutnya dapat mendorong bank sentral menuju jalur kebijakan yang lebih longgar,” kata Ibrahim.
Dukungan Faktor Domestik dan Peran Bank Indonesia
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Menurut Ibrahim, pasar merespons baik komitmen BI yang aktif melakukan intervensi melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
Bank Indonesia juga meyakini nilai tukar rupiah ke depan akan relatif stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil aset domestik yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang dinilai tetap solid.
“Penguatan rupiah juga akan didukung cadangan devisa yang lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar,” pungkasnya.