Nilai Tukar Rupiah Melemah Sentuh Level Rp17.952 per USD
Pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS dan Iran.
Nilai tukar atau kurs rupiah pada penutupan perdagangan Rabu sore melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.952 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.907 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi menyatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS dan Iran.
"Ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global," ucapnya dikutip dari Antara, Rabu (1/7).
Para pedagang disebut tetap fokus pada perkembangan di Qatar setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis.
Pergeseran ini dinilai mengaburkan prospek kesepakatan cepat untuk mengubah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan menjadi kesepakatan perdamaian yang langgeng.
Di sisi lain, terjadi penurunan tajam harga minyak mentah pasca konflik Iran. Harga Brent anjlok sekitar 38 persen selama kuartal kedua setelah melonjak sekitar 94 persen pada kuartal pertama, menandai penurunan kuartal tercuram sejak penurunan rekor 66 persen pada kuartal pertama tahun 2020.
Patokan global ini juga turun sekitar 21 persen pada bulan Juni setelah penurunan 19 persen pada bulan Mei, penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz mereda.
"Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka, termasuk masa depan Selat Hormuz," kata Ibrahim.
Pantau Pasar Tenaga Kerja AS
Selain itu, lanjutnya, data pasar tenaga kerja AS pekan ini akan dipantau dengan cermat untuk mendapatkan petunjuk baru tentang langkah kebijakan Fed selanjutnya.
Laporan JOLTS pada Selasa (30/6) menunjukkan lowongan kerja naik menjadi 7,594 juta pada bulan Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta. Sementara Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada bulan Juni membaik karena kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran menurunkan harga bahan bakar.
"Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Kamis (2/7), yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS," ujar dia.
Melihat sentimen dalam negeri, pasar merespon negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 defisit USD 1,61 miliar . Defisit ini merupakan defisit pertama sejak 6 tahun lalu.
"Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar USD 24,81 miliar, sedangkan ekspor RI USD 23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020," ungkapnya.
Inflasi Juni 2026
Adapun inflasi tahunan pada Juni 2026 berada di level 3,34 persen year on year (yoy). Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, hingga transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut.
Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada kondisi Juni 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026 yang menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.961 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.899 per dolar AS.