Rupiah Terancam Tembus 17.000 per USD, Ini Penyebab Utamanya
Nilai tukar rupiah diprediksi akan mencapai angka antara Rp 16.840 hingga Rp 17.000 pada minggu depan.
Menurut Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, nilai tukar rupiah diperkirakan akan mengalami tekanan yang cukup berat. Ia menyebutkan bahwa ada kemungkinan rupiah akan melemah hingga mencapai level Rp16.840, bahkan bisa menembus angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat. "Rupiah diperkirakan minggu depan tembus Rp 16.840 - Rp 17.000," ungkap Ibrahim dalam pernyataannya pada Jumat (16/1/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa tekanan yang dialami rupiah bukanlah fenomena sementara, melainkan dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik yang belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Hal ini membuat pergerakan rupiah sangat rentan terhadap penguatan dolar AS dalam waktu dekat.
Ia juga menambahkan bahwa selama ketidakpastian global masih tinggi dan respons kebijakan domestik belum solid, kemungkinan besar rupiah akan terus mengalami pelemahan. Oleh karena itu, pasar perlu terus memantau perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global sebagai faktor utama yang dapat mempengaruhi arah mata uang.
Ketegangan Geopolitik Global Meningkat, Nilai Dolar AS Makin Kuat
Secara global, terdapat sentimen negatif yang muncul dari Amerika Serikat setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, dipanggil oleh kejaksaan agung. Meskipun Presiden AS, Donald Trump, telah berulang kali menegaskan bahwa Powell tidak akan ditangkap, isu ini dianggap memperburuk situasi politik di Negeri Paman Sam.
"Powell pun juga dipanggil datang ke kejaksaan agung. Walaupun Trump sudah berkali-kali mengatakan tidak mungkin Powell ditangkap. Tapi Powell sendiri mengatakan bahwa ini adalah permasalahan politik. Jadi, ini kemungkinan perpolitikan Amerika ini terus memanas," ujarnya.
Di samping itu, pembatalan pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran juga menambah kekhawatiran di pasar. Hal ini dianggap sebagai sinyal bahwa AS masih membuka kemungkinan untuk meningkatkan konflik, termasuk potensi invasi, yang semakin memperkuat sentimen risk-off di pasar global.
"Nah, di sisi lain pun juga pertemuan antara pejabat Amerika dengan Iran dibatalkan untuk melakukan negosiasi. Artinya, bahwa Trump masih menginginkan adanya invasi ke Iran," jelasnya.
Faktor Domestik Tidak Mampu Menahan Tekanan Nilai Tukar Rupiah
Dalam konteks domestik, Ibrahim menggarisbawahi pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai alokasi dana sebesar Rp 275 triliun yang disalurkan oleh Bank Indonesia kepada bank-bank Himbara. Ia berpendapat bahwa langkah ini belum memberikan dampak yang signifikan dalam menstabilkan nilai tukar rupiah di pasar.
Ibrahim juga mencatat bahwa kurangnya koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjadi salah satu penyebab utama dari situasi ini. Isu tersebut diprediksi akan terus menjadi sorotan pasar pada pekan mendatang, yang dapat menyebabkan tekanan terhadap rupiah berlanjut dan mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
“Di dalam negeri sendiri Purbaya sudah mengatakan bahwa dana Rp 275 yang digelontorkan dari Bank Indonesia ke Bank Himbara ini pun juga tidak ada hasilnya sama sekali. Ya mungkin ini karena tidak adanya kerjasama antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Sehingga membuat rupiah ini ke Rp 17.000 atau mendekati Rp 17.000,” pungkasnya.