Gim Suyati, warga asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah kembali ke keluarganya setelah hilang tanpa kabar selama 31 tahun di Malaysia. Berkat sahabat baiknya selama di Malaysia, seorang pria bernama Kamarudin bin Harun memutuskan datang langsung ke Indonesia demi mencari keluarga Gim Suyati di Jawa Tengah.
Pria itu datang dengan biaya pribadi akhirnya mencari alamat keluarganya di Desa Adinuso, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada 14 April 2026. Kedatangan Kamaruddin menjadi titik balik yang mempertemukan kembali keluarga Gim Suyati setelah terpisah bertahun-tahun.
"Beliau datang ke desa kami cari keluarga kami. Dia dari Malaysia meskipun datang sendiri dalam kondisi kesehatannya tidak begitu baik," kata Anto, Jumat (15/5).
Usai keluarga ditemukan, anak kedua Gim Suyati bernama Anto kemudian berangkat ke Malaysia pada 21 April 2026 untuk menjemput ibunya. Namun proses pemulangan kembali terkendala administrasi.
"Terkendala administrasi karena status kewarganegaraan Gim Suyati diragukan akibat pergi sebelum era e-KTP," kata Anto.
Anto mengaku hampir kehabisan masa tinggal di Malaysia karena proses pengurusan dokumen tak kunjung selesai. Hingga akhirnya keluarga meminta bantuan kepada anggota DPR RI asal Batang Yoyok Riyo Sudibyo yang sebelumnya pernah membantu warga Batang bermasalah di Malaysia.
"Proses yang saya tunggu dua minggu akhirnya selesai hanya dalam tiga hari setelah dibantu Pak Yoyok," ujarnya.
Kini setelah puluhan tahun terpisah, Gim Suyati bisa kembali menginjak tanah kelahirannya di Desa Adinuso Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Namun kepulangan itu membuat kesedihan mendalam karena sang suami telah meninggal dunia pada 2005 dan tidak sempat bertemu kembali dengannya.
"Ayah saya meninggal tahun 2005, jadi belum sempat bertemu ibu lagi," ujarnya.
Di tengah kerumunan warga, Anto, anak kedua Gim Suyati, tak mampu menyembunyikan rasa haru setelah perjuangan panjangnya membawa sang ibu pulang akhirnya berhasil.
"Saya tentu sangat bahagia karena perjuangan membawa pulang ibu bukan pekerjaan mudah sebab terbentur birokrasi yang tidak jelas tenggat waktunya," ujar Anto.
Sebelumnya Anto menceritakan ibunya pergi ke Malaysia pada tahun 1995 melalui seorang agen tenaga kerja yang ternyata tidak resmi. Saat itu, komunikasi keluarga dengan Gim Suyati masih berjalan hingga sekitar tahun 1997.
Namun setelah sang ibu mengabarkan ingin pulang ke Indonesia, komunikasi mendadak terputus tanpa kabar. "Kami kehilangan kontak sejak 1997 dan tidak punya petunjuk apa pun tentang keberadaan ibu," katanya.
Selama puluhan tahun, keluarga hanya bisa berharap dan berdoa agar Gim Suyati masih hidup. Bahkan dua kali berangkat bekerja ke Malaysia dengan harapan dapat menemukan jejak ibunya tapi tidak bisa.
"Usaha tak kunjung buahkan hasil karena keluarga tak memiliki alamat dan petunjuk sang ibu. Saya cari tapi dua kali usaha itu gagal. Padahal saya kerja di Malaysia pada 2002 hingga 2004, lalu kembali lagi pada 2005 sampai 2008," jelasnya.
Di sisi lain, Gim Suyati ternyata selama bertahun-tahun juga berusaha pulang ke Indonesia melalui jalur resmi. Sayangnya, karena tidak memiliki dokumen apa pun, upayanya berkali-kali menemui jalan buntu.
Advertisement
Tak Ada Identitas Resmi
Anto menyebut sang ibu masuk ke Malaysia tanpa paspor dan identitas resmi karena menjadi korban agen ilegal. "Ibu saya berkali-kali datang ke KBRI tapi selalu diminta bukti dan dokumen, sementara ibu memang tidak punya apa-apa," katanya.
Menurut Anto, persoalan terbesar bukan sekadar administrasi, tetapi minimnya empati terhadap para pekerja migran bermasalah.
Advertisement
Era Digital
"Kalau ada empati sebenarnya cerita ibu bisa diverifikasi karena sekarang sudah era digital dan desa bisa dihubungi," ujarnya.
Kisah Gim Suyati menjadi potret panjang perjuangan keluarga pekerja migran yang hilang kontak di negeri orang sekaligus pengingat bahwa masih banyak cerita serupa yang belum menemukan jalan pulang.