Sampah di Jakarta Capai 9.059 Ton per Hari, Kebanyakan Sampah Sisa Makanan

Di Jakarta, total sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 9.059 ton setiap harinya, dengan hampir setengahnya berasal dari sisa makanan.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
Sampah di Jakarta Capai 9.059 Ton per Hari, Kebanyakan Sampah Sisa Makanan
Tumpukan sampah di TPS Rawadas, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, memenuhi akses jalan, Selasa (31/3/2026). (Antara)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaporkan bahwa volume sampah di ibu kota mencapai sekitar 9.059 ton setiap harinya. Dari jumlah tersebut, hampir setengahnya terdiri dari sampah organik yang sebagian besar adalah sisa makanan atau food waste.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, menyatakan bahwa tingginya jumlah sampah sisa makanan menjadi tantangan serius bagi sistem pengelolaan sampah di perkotaan. Oleh karena itu, pengurangan food waste dari rumah tangga dan tempat usaha dianggap sebagai langkah krusial untuk mengurangi beban pengelolaan sampah.

"Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, pengurangan sisa makanan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Jakarta," ujar Dudi dalam keterangan yang dirilis pada Sabtu (25/7/2026).

Dudi menjelaskan bahwa mengurangi sisa makanan akan berpengaruh langsung terhadap berkurangnya volume sampah yang perlu ditangani pemerintah setiap harinya, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga proses pengolahan. Dengan demikian, upaya ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan sampah di DKI Jakarta.

Masyarakat dapat berperan aktif dengan melakukan langkah-langkah sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, mengambil makanan dalam porsi yang tepat, menghabiskan makanan yang ada, mengolah ulang bahan pangan yang masih layak, serta memilah sampah organik dan anorganik sejak di rumah. Dengan demikian, setiap individu dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengurangan timbulan sampah.

"Sampah sisa makanan yang terus meningkat memberikan beban besar terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan. Karena itu, pengurangannya harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari dalam mengelola pangan," tegas Dudi.

Saat ini, Pemprov DKI meluncurkan Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan yang dikombinasikan dengan Gerakan Pilah Sampah. Melalui inisiatif ini, warga diajak untuk merencanakan konsumsi, mencegah makanan terbuang, memanfaatkan bahan pangan yang masih layak, serta memilah sampah dari sumbernya.

Dudi menambahkan bahwa gerakan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dan melibatkan komunitas serta pelaku usaha di sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA). Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Sementara itu, Executive Director IBCSD, Indah Budiani, menyampaikan bahwa Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan bertujuan untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa sisa makanan adalah masalah yang bisa dicegah melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. "Masyarakat dapat menerapkan kebiasaan sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, menyimpan pangan dengan benar agar lebih tahan lama, mengolah kembali makanan yang masih layak, hingga menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan," jelas Indah.

Indah menilai bahwa perubahan kebiasaan di tingkat rumah tangga akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh jutaan warga Jakarta. Selain mengurangi timbulan sampah, pengelolaan pangan yang bijak juga diyakini dapat menghemat pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan kepedulian sosial.

"Melalui keterlibatan pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha, jumlah sisa makanan yang berakhir menjadi sampah dapat terus ditekan sejak dari sumber," tutupnya.

Rekomendasi